Jumat, 30 Oktober 2020

eng ing enggg

Hello semuanya. Hahaha, semuanya siapa yaa, yg baca juga kaga ada yekannn. 
Fyi, sorry banget gaes. Cerita bersambung yg beberapa waktu lalu kutulis ke-pend karna beberapa hal yg harus diselesaikan dulu. Jadi, segera lah yaa dilanjut. Tsangkyu 

People Changes

Seringkali kudengar bahwa setiap orang layak dan pasti akan berubah. Entah dari pribadi buruk menjadi lebih baik ataupun sebaliknya, dari baik menjadi buruk. 

Apakah aku percaya? Tidak, tentu aku tak percaya. Bagiku, karakter dasar manusia adalah saklek, paten tak bisa di ubah sedikitpun. Berdasarkan logika ku, yg baik pasti akan bertambah baik, sedang orang buruk akan semakin buruk. Yaaah, begitulah mindset ku yg sama sekali keliru.
Jadi, ajukan ulang pertanyaan mu padaku. Lantas, percayakah kamu kini? Bukannya itu juga berlaku padamu? Tidakkah kamu merasakannya juga? Baiklah, mari sedikit kujabarkan bagaimana pandangan ku mengenai hal ini, kini.
Setiap dari kita memiliki hak yg sama untuk sebuah perubahan itu. Entah karena apapun alasannya, karena teman yg berkhianat kah, karena kekasih hati kah, bahkan sebab Tuhannya. Suatu ketika, aku mendengar kabar bahwa salah seorang teman juang telah lebih dulu dipanggil menghadap Sang IllahiRabbi, terpukul sekali ku mendengar. Padahal kami sempat berkabar beberapa waktu yg lalu, lantas kini ia terlebih dahulu pergi. Saat melayat, saudara kembarnya menemuiku, bersalaman, lantas memeluk ku erat sembari menahan isak nya yg dalam. Tak kuasa akupun ikut menangis, yaaa aku bukan orang yg kuat, perihal hati aku sangatlah rapuh. Kami berbincang, bercerita waktu-waktu sebelum ia menghembuskan nafasnya yg terakhir.
"Almarhum sempat bilang kalo dia merindukan kalian teman-temannya, terutama kamu gil.. " aku diam, tak bergeming sedikitpun. Lalu ia melanjutkan, "Tuhan Maha Segala. Sekarang aku benar benar percaya soal itu, kamu tau gil..."  ia mengambil nafas dalam sekali,  "... Kamu tau sendiri bagaimana aku dan dia dulu. Tabiat kami liar sekali. Sekali waktu, minum hingga mabuk, sekali waktu kami menggeber motor dengan kecepatan tinggi dijalanan. Tak takut mati, tak takut dosa. Tapi Tuhan Maha Segala, gil... Tepat setahun lalu kami bertobat, insyaAllah taubatan nasuha. Karena sesuatu yg tak bisa kusampaikan. "
"Lalu, bagaimana, dwik?" aku mencoba merespon dengan sedikit ragu untuk memulai,
"... Yaaa, gil. Alhamdulillah. Kamu gaperlu khawatir, almarhum sudah bertaubat. Itu yg membuatku sedikit tenang, meskipun masih berat merelakan."
"Yang terpenting, sampaikan alfatihah mu juga untuknya yaa... "
" Yaa, tentu. " jawabku singkat. Tak ada lagi kata setelah itu, kami sama sama tak bergeming. Mengheningkan cipta sejenak, untuk salah seorang sahabat juang. Yg tak pernah meninggalkan sahabat lainnya, apapun alasannya.
Kawan, bukalah pikiranmu bahwa setiap orang pasti berubah, berproses, dan hasil akhir hanya kita lah yg menentukan. Baik ataupun buruk. Bahkan seorang yg kutau betul bagaimana tabiatnya, ia mampu berubah, menjadi lebih baik dari dirinya diwaktu yg lalu. Jauh, lebih baik.
Jadi, bagaimanapun, percayalah bahwa perubahan itu pasti ada.. 

Sabtu, 26 September 2020

unknown feel.

Tak apa jika memang seperti ini, 
Tak apa jika itu bisa membuat kita bisa terus bersama, 
Sungguh tak apa, 

Tapi setidaknya, berbagilah. 
Aku ada. 
Setidaknya, buatlah aku ada 

Jumat, 11 September 2020

Syukur (?)

Ternyata benar, 
Tuhan senantiasa tau, 
Apa apa yang kamu perlukan, 
Apa apa yang senantiasa kamu butuhkan. Saat ini, 
Ternyata memang benar, 
Ketika kamu berserah, 
Ketika kamu berpasrah, 
Segera hilang keluh kesah, 
Segera sirna semua gundah, 
IllahiRabbi. Aku percaya, 
KuasaMu lebih luas dari samudera, 
Lebih lapang dari langit dan isinya, 
Lebih tinggi, dari sekedar gunung tertinggi di dunia, 
Lalu? 
Masih pantaskah aku? 
HambaMu yang tak pernah bersyukur ini menerima semua anugerahMu yang elok ini? 
Yaa Muqallibul Qullub, ampuni. 

Selasa, 25 Agustus 2020

Hei, be stronger dude

***
Minggu pagi. Waktu yang kami sepakati untuk hangout bareng, jadilah aku bersiap sejak pagi untuk menjemput Alfin di rumahnya. Kira-kira setengah jam perjalanan dari rumah menuju rumahnya, meskipun ini bukan kali pertama aku berkunjung ataupun menjemputnya tapi tetap saja aku berdebar. Tibalah aku akhirnya, kuparkir motor lantas melangkah menuju teras rumahnya seraya mengucap salam, 
"Assalamualaikum, " kebetulan sekali ibu yang menyambutku datang 
" Waalaikumsalam, oh kamu le? " sahut ibu dari dalam rumah. Lantas bergegas aku salim, 
" Al, ada bu? " 
" Ada, iku lagi siap-siap nang jero le. Samean arepe nangdi? (kamu mau kemana?) " 
" Engg, nganu bu... Mau keluar. Bareng Wulan juga kok bu, " menjawab pertanyaan ibu aku jadi sedikit gupuh, alihalih memberi jawaban malah terkesan beralasan. 
" Healah, arepe dolan toh? (healah, mau main toh?) “ kata ibu setengah menggoda. 
" Yuk Mas,  dah siap aku. Buk, aku berangkat yaa sama Mas. " belum juga reda ibu nggojlok jawabanku tadi, Alfin keluar seraya salim. Aku diam sebentar. Cantik. Dalam hati aku bergumam sendiri, mematung 3detik sebab kagum terhadapnya. 
" Hmm, anak wedok ku wis prawan. Yowis atiati lo le. Ojo malem malem lek muleh." (hmm, anak perempuanku sudah gadis. Yasudah, hatihati ya le. Jangan malam malam kalau pulang). 
" Eeh, iya bu. Saya pamit... Assalamualaikum, bu" masi dalam lamunanku aku tergopoh gopoh pamit pada ibu. Lantas kami berangkat. Alfin hanya senyum meledek laku ku di hadapan ibu tadi. 
"Kenapa kamu senyam senyum aja daritadi? " kataku. Mataku masih awas memperhatikan lurus ke depan, 
" Hahaha gapapa, dear. Lucu aja ngeliat kamu bicara sama ibu. Sepertinya kamu pernah cerita deh, kalo waktu masih kuliah kemarin kamu sempat masuk di divisi pengkaderan, " dia masih tergelak sambil bercerita, 
" Yaa, memangnya apa hubungannya yang? Gaada hubungannya deh "
" Yaa ada dong. Kamu kalo ngader kan galak sama juniormu, nah ini kamu kaya harimau hilang taringnya di depan ibu.. Hahahaha" Lagi lagi dia meledek, 
"Hahaha yauda sih yang, masa iya aku mau ikutan galak ke ibu. Bisa-bisa ga di kasih ijin lagi dong kita. Ada-ada aja sih... " 
Dia tertawa mendengar jawabanku. Sepanjang jalan kami bercerita, banyak hal. Tanpa terasa waktu berputar cepat. 
Sampailah kami di tempat kami berjanji untuk bertemu semua. Nampak si Wulan dan Mas Pras sudah melambaikan tangannya, sepertinya mereka sudah lama menunggu kami. 
"Heeeei, maafkan kami lama yaa? Udah daritadi?" Alfin memulai percakapan, 
"Haduuuh emang yaa kalo pasangan lagi kasmaran tu di lama lamain dijalannya, menikmati jalanan kota, gapeduli macet panas, badaipun cuma kaya remahan biskuit terbang gitu aja. " Wulan mulai nyerocos bak kereta api kehilangan kendali remnya. Aku tertawa mendengar mereka berdua berdebat, saling ledek dan diakhiri dengan tertawa. Senang sekali rasanya mendengar. 
" Sorry ya Wulan, Mas Pras jadi nungguin lama... " kataku 
" Santai aja kali mas, udah biasa aku dengerin mereka berdua seperti ini. Wkwk. 
Jadi, gimana Jember minggu minggu gini mana padet dengan Banyuwangi sana... " sahut Mas Pras berusaha lebih akrab. Akupun menanggapi dengan banyak cerita, mulai dari pengalaman dijalanan kota Banyuwangi, kultur khas budaya, percakapan orang orang di warung kopi dan banyak lagi. Obrolan kami mengalir, enjoy walau tanpa kretek sehari itu. Maklum, sebagai laki-laki kami tetap menjaga wanita kami. Sebab mereka tak bisa terkena asap rokok sedikitpun. 
"Yaa, gini nih. Laki ketemu laki, udah. Obrolannya panjaaaaang banget. Ngahahaha" ditengah obrolanku dengan Mas Pras, Alfin nyelentuk. 
Kami berempat lantas melanjutkan obrolan siang itu. Menikmati beberapa minuman dan makanan ringan yang sudah kami pesan sebelumnya, sesekali membahas tentang rencana rencana satu sama lain. Siang itu menyenangkan. 
" Jadi, gimana kalian kedepannya? Sudah ada rencana? " nyaris tersedak kopi hangat aku mendengar celentukan si Wulan. 
" Iya nih, kapan? Jangan kelamaan, " Mas Pras menambahi
Kami berdua saling tatap sebentar, 
" Doakan saja, yaa.. " nyaris serentak menjawab bersamaan, tanpa aba-aba. Saling tatap lagi, lantas tertawa terpingkal bersama. Wulan dan Mas Pras hanya geleng geleng melihat tingkah kami kali ini, 
" Ternyata memang sama aja ya, lan. Semoga mereka jodoh yaa " Kata Mas Pras terhadap Wulan 
" Iya mas, mudah mudahan deh " 
Siang itu terasa cepat sekali berlalu, tak terasa sinar Jingga Ashar perlahan mulai menampakkan diri. Pertanda sore segera tiba, aku dan Alfin pamit lebih dulu. Tak banyak bertanya, apalagi nggojlok kami berdua, mereka meyilakan. Sepertinya mereka paham betul bagaimana keadaan Alfin. Yaa, wanitaku ini tak bisa kubawa seenak jidat. Dia begitu disayangi seluruh anggota keluarga, jadi tiap kali kami ingin hangout harus melalui beberapa ijin dulu dari ibu, mas dan bapak. 
"Dear, tak apa kan kita pulang lebih awal seperti ini? " 
"... Gapapa yang, memangnya kenapa?" 
"Ya ngga, kita jarang ketemu. Sekalinya ketemu ga lama, mana harus ijin dulu dan lain lainnya... " 
Aku selalu gemas melihat wajahnya yang cemberut, selalu suka melihat rona wajahnya yang memerah tatkala menghadapi situasi seperti ini. 
"... Hei, gapapa sayang. Nanti, kalau sudah serumah kan jadi sering ketemu. Sabar, ya, lagian juga kan tandanya mereka peduli sama kamu, jadi gapapa kok "
" Tapi, kan.... "
"... Hm? Kenapa? Masih kangen?" 
"Iyaaa, huu "
"... Yauda, dilama-lamain yuk jalannya" 
"Hei, hahaha, selalu saja kamu punya cara. Yauda, hayuk kita jalan "
Lagi-lagi, aku tersenyum melihat tingkahnya. Lucu, tapi tetap anggun dimataku. Kupacu motor kesayangan ku sedikit lebih lambat dari biasanya, menikmati mentari sore, berdua. Bercerita tentang apapun, kami menikmati semua. 
"... Yang, sudah cukup yuk. Kita berhenti aja, udah capek " kucoba memulai percakapan 
" Ngomong apasih? Jangan ngelantur gitu ah ngomongnya, "
"... Iya berhenti. Udah capek nyari, sekarang udah ada kamu. Udah capek jalan sendiri, sekarang ada kamu. Kita sama sama ya," 
"Hih, paling bisa dah. Gombal teros "
"... Serius, yang." 
"Yauda kita jalan bareng bareng, dear. Ini kan udah sama sama. Banyak berdoa aja, "
Yaa, benar kita sekarang kita telah bersama. Semoga kami tak pernah pupus. 
Semoga kami tak pernah pudar. 
Senja, kemacetan kota, jalan kabupaten, jadi teman perjalanan kami sore itu. 
Satu jam kami berkendara, setibanya di rumah Alfin aku segera pamit sebab sore telah menjelang. Ibu mengantarku sampai depan pintu, sepertinya tak ada masalah sebab kami sedikit terlambat tiba. Lantas aku pun pulang. Sepanjang jalan pulang rekah semyumku tak henti, masih teringat rona merah jambu di senyumnya. Masih terngiang gelak tawanya, sungguh rindu ini selalu ada. 
Sesampainya di rumah, aku disambut mama di pelataran rumah. Sepertinya memang menungguku pulang, 
"Dari mana le? Senyam senyum ae tak liatin "
"... Hehe abis dari jember ma, jalan." 
"Hmmm, ngerti banget mama anak e mama satu ini pasti lagi kasmaran. Anak mana? Siapa? Kok mama gatau? " terus didesaknya aku
"... Apatoh ma ini, hahhaa. Dah, ah aku mau mandi. Belum shalat, lafyu mam." 
"Hei, gasopan. Diajak ngobrol orangtua mesti koyok ngunu. "
Aku terkekeh mendengar mama terus berceloteh, mengejarku menuntut jawaban. Aku melangkah ke kamar mandi, bau matahari dan jalan membuat badanku campur aduk baunya. Kok Alfin ga bau ya, pikirku. Haha
" Anak e awadewe wis joko ya, ma.. " kata papa
" Iyo e pa, maringene wis wayahe. Mugo diparingi lancar kabeh lah wis, ojo dipenging penging." (iya pa, sebentar lagi sudah tiba waktunya. Semoga diberi kelancaran lah ya. Jangan di larang larang) 
"yoiyo ma, aamiin "
Aku sempat menguping pembicaraan mereka sebentar, tertawa geli mendengarnya. Lantas tak ku hiraukan lagi apa saja yg jadi pembicaraan mereka. Aku bergegas mandi, dan segera menunaikan tugasku sebagai muslim. Lantas ku lemparkan tubuhku diatas kasur, merebahkan badan. 
***
(part 9)

Rabu, 19 Agustus 2020

Hei, be stronger dude

***
Siang itu mendung. Padahal jam dinding masih menunjukkan pukul 12.17, aku mulai gelisah khawatir hujan membuat perjalananku pulang terhambat, ah dasar aku.
"Jember hujan, dear... Jas hujanmu ga ketinggalan kan. Hati-hati, segera pulang. Misyu" sebuah notif dari alfin. Aku tak sempat membaca sebab berkutat dengan tumpukan kertas yang makin hari makin tebal saja, tak kunjung akhir. Jam berdentang menunjukkan tepat pukul 14.00. Sial. Lama sekali waktu ini berputar, gerutuku dalam hati. Kriiiiiiiiiiingggg, handphone ku berdering lantas segera kuraih.
" Dear, gausa ngebut. Aku tau kamu kepengen segera bertemu, tapi hati-hati. Gausa ngebut ngebut. Aku tetep nunggu kok... " suara dari sebrang telpon ini sangat aku rindukan, sosok yang selalu berhasil mencuri semua perhatian dariku, yang selalu menjadi sumber energi kedua setelah mama. Tak tega rasanya membuat dia khawatir seperti itu. Aku tak bicara banyak, hanya meng-iyakan setiap kekhawatiran dia. Lantas mengakhiri obrolan singkat itu. Jam dinding menunjukkan tepat pukul 15.00, berakhir sudah urusan hari ini. Sempat beberapa teman mengajak untuk sekedar ngopi di kedai langganan, sekedar melepas lelah sehabis bekerja. Namun dengan segala hormat kutolak baik-baik, sebab aku tak bisa lagi menunda kepulanganku hari ini. Sepertinya mereka pun memahami maksudku, lantas membiarkan aku bergegas pulang. Tanpa hujan, tanpa mendung siang itu. Cerah terik matahari, langit tersenyum padaku. Siang itu.
***
Tepat satu setengah jam perjalanan. Kutepikan motor untuk sejenak menunaikan shalat ashar. Usai tunai asharku, lantas kupacu motor segera menuju tempat kami bertemu sore ini. Tak sabar segera bertemu, kupacu sedikit lebih cepat menyusuri jalanan kota. Tunggu, tunggu aku. Sial sekali lagi, aku tak bisa tepat waktu untuk tiba sebab jalanan kota yg padat, macet dimana mana menguji kesabaran banyak orang yang tengah berburu waktu sama sepertiku. Mungkin memang bersamaan dengan jam pulang kantor, setengah emosiku terkuras dengan kemacetan ini. Setelah cukup lama aku berkutat dengan kemacetan jalanan kota sore itu, tiba juga aku di rest area jubung tempat dimana kami berjanji untuk bertemu.

" Maaf aku lama yaa, jalanan macet. Pada ngawur ngawur semuanya dijalan. Kesel, gatau orang buruburu banget... " keluhku. 

" Hei, sudah tak apa. Yang penting kan selamat " 

" Jadi kenalkan, ini wulan, enggar, mas pras.. Mereka temen-temen yg sering aku ceritakan, Mas.. " sambil tersenyum ia mengenalkan aku dengan beberapa teman teman yg juga dia ajak untuk berkumpul. Memang sebelumnya dia bilang ngajakin teman temannya yg lain. Tapi tetap saja, aku kikuk di awal pertemuan dengan orang-orang baru, selalu begitu. 

" Agil, saya agil... " lantas aku memperkenalkan diri meskipun kaku. 

"Hei mas , enggar ... " 

" Wulan mas..."

"Pras, Mas Pras ... hehehehe" 

Lantas mereka memperkenalkan diri satu per-satu. Obrolan kami terasa menyenangkan sore itu, tak jarang tawa kami meledak sebab hal-hal konyol yang mereka bincangkan. Aku hanya senyam-senyum mendengarkan mereka, sesekali nyelentuk , kebanyakan diam. Tak apa , situasi seperti ini yg aku perlukan saat ini. Tertawa lepas sejenak melepas penat, meskipun dalam kepala banyak hal yang berlalu lalang memikirkan banyak hal.

"Hei, jangan melamun. Apasih yang dipikirkan?" tangan mungil itu menggapai lenganku, aku terkejut. 

"Eh, ngga kok. aku ga ngelamun... hehe " 

"Jangan bohong, aku tau kamu. Kalo sudah begini, tentu ada hal yg kamu pikirkan kan ?

Tak apa , Mas. semua baik-baik saja. Yaaa?" 

Aku tak menanggapinya dengan kata, tersenyum sudah jadi cara terampuh bagiku memenangkan  kemelut dalam hati. Pun demikian, ia juga selalu mengerti bahwa senyuman selalu memberinya jawaban atas segala risau kami. Begitulah ia, selalu berhasil meruntuhkan semua keraguanku tak hanya atas diriku sendiri bahkan segala hal yang terlalu banyak kupikirkan. Sore itu jingga kembali ke peraduannya berganti rembulan malam yang meskipun tak terlalu terang, tapi cahayanya menenangkan kepada siapapun , setiap insan. Lantas kami semua memutuskan untuk pulang, berpamitan satu sama lain

"Boleh nih kapan-kapan kita maen bareng," celetuk si Enggar

"Oh, jelas. Boleh banget. gimana mas ?" timpal si Pras. Sial, baru juga kenal kenapa mereka sepercaya ini mengajakku bergabung. Sungguh, aku tak se-asik itu menjadi teman bincang.

"Eeee, iya boleh. Tinggal pas-in liburnya aja kalo barengan.." astaga mulut ini berucap semaunya tanpa perintah jelas dari otakku.

"Oke, fix. Biar si Alfin yg atur soal si Mas-nya. Kita pastiin aja ntar tanggalnya"  timpal si Wulan

Lantas mereka serempak menjawab "setuju" nyaris bersamaan. Yaaa, tak apalah sesekali aku harus sering sering keluar, pikirku.

Setelah semua setuju dan sempat berdiskusi dengan Alfin perihal ijin ke Ibu nanti, kami bergegas untuk pulang. Sebab petang sudah tak lagi bisa ditawar.

Cahaya lampu menerangi jalanan Kabupaten yang kami lalui, ramai dan macet arus lalu lintas sudah acuh kuhiraukan. Rindu ini terobati hari ini. Dan pulang menjadi tujuan kami, tentu saja pulang bersama dalam satu rumah tengah kami upayakan, sekeras hati.

****

(part 8)

Sepucuk Surat Untukmu

 

Al, apakabar kamu saat ini ?

Apakabar kamu wanita yang sangat gigih kuperjuangkan ?

Apakabar hati yang selalu kurindui ?

Semua baik-baik saja bukan?

Kuharap kamu tetap kuat hingga waktu yang kita nanti-nantikan itu menjelang.

 

Al , kau tau ? Tentu kamu tau, bukan ?

Saat ini aku tengah berupaya, menerpa badai yang senantiasa menghadang langkah kaki

Menapaki setapak demi setapak jalan yang kita tau sangatlah terjal.

Tak apa, Al

Jangan berhenti. Jangan berhenti saat ini ,

Duduklah tenang, rapalkan saja semua doa-doa terbaikmu untuk kita.

Itu saja yang kupinta.

Biarkan aku yang nanti menjemputmu, kuharap kamu sabar menunggu.

 

Al, aku tak pernah sehebat ini berjuang

Tak pernah sesenang ini mengatasi segala sulitku

Sebab aku tau, hanya kamu sempurnaku

Sebab keyakinanku tak pernah pupus, alih-alih pudar.

Keyakinan bahwa hanya kamulah tulang rusuk yang hilang

Keyakinan sebab kamu teman terbaik dalam perjalananku berlayar

Bahtera ku sempurna atas hadirmu, nanti.

Semoga yang senantiasa ku Aamiin-kan sepenuh hati, segenap jiwaku

Tak kah kaupun demikian, Al ?

 

Al, maka biarkan aku segera berlabuh

Menancapkan jangkarku kuat-kuat

Hingga kerasnya ombak menerjang pun tak akan goyah,

Bahkan badai menyerah.

Tetaplah langitkan semua harapmu, semuanya 

Tanpa sisa.

Jangan kemana-mana ya , disini saja . 


dariku, untukmu 

 

 

Kamis, 13 Agustus 2020

Hei, be stronger dude

Bulan pertama aku di tempat baru. Banyak hal baru yang aku hadapi disini. Orang orang baru, lingkungan baru, suasana baru. Syukur tiada henti kupanjatkan pada-NYa,
"...hari ini bosan ya " si Erwin tiba-tiba nyelentuk
" masa gaada kerjaan sama sekali. Gabut. Hari-hari membosankan... " terus saja dia mengomel sendiri. Tidak lagi aku hiraukan, kupasang earphone, now played ~ pergi, hilang, lupakan salah satu list lagu favorit yang ada di mediaplayerku. Hei, sepertinya tepat kudengarkan ketika kawanku satu ini sedang mengoceh hal-hal yang ga penting seperti ini.
"... Wwwoooee. Dengerin kek orang ngomong ". Aku terkekeh mendengar protes si Erwin. " iya win, ada apa? "
" Ga jadi! " Jawabnya ketus.
Aku hanya senyam senyum merespon nya, sudahlah biarkan dia. Mungkin sedang jenuh dengan pekerjaan kami yang memang terkesan monoton ini.
***
Tengah hari. Terik matahari seperti tak menembus permukaan bumi Kalibaru, dingin nya hawa masih saja tetap terasa. Karena memang daerah pegunungan, jadi wajar saja. Ku gulir layar handphone, whatsapp jadi aplikasi pertama yang selalu ku buka ketika jam makan siang tiba.
"Hei, dear. Sudah siang. Sudah shalat? Makan, jangan telat " pesan singkat itu segera melayang, sampai pada notifnya. Menjadi kebiasaan bagiku untuk tetap berkabar. Meski jarak kita tak terlalu jauh, namun tetap menjaga komunikasi adalah hal yang wajib untuk tetap menjaga komitmen kami. Menyempatkan berkabar ditengah kesibukan.
"... Hmmm, makan terooos. Ntar aku gendut kamu gamau loooh yang. " hanya beberapa menit dia membalas. Aku tertawa membaca isi balasan itu. Lantas kami terus saling berbalas pesan, seperti biasa.
" Kapan pulang. Sudah rindu.. "
"... Lusa aku pulang. Esok harinya kita jalan. Mau?"
"Tentu saja mau, pertanyaanmu aneh. Tapi, gimana ijin dengan ibu, yang? "
Sejenak aku tersenyum membaca nya, membayangkan rona wajahnya yang selalu merah muda tatkala ia cemberut, tersenyum, bingung, bahkan gelisah. Yaa, memang hubungan kami belum juga diketahui oleh keluarga kami masing-masing. Ada banyak pertimbangan kami untuk saling mengenalkan, sebab bahasa "pacar" memang sedikit meragukan untuk keseriusan bagi keluarga kami masing-masing. Jadi, kami berkomitmen jika nanti telah siap satu sama lain dan keadaan memungkinkan, kami akan maju bersama. Menghadap dan meminta izin untuk ke jenjang selanjutnya.
"Gapapa, nanti biar aku yg ijinin ke ibu ya. Pagi berangkat, sore kita sudah dirumah." lantas kujawab seperti itu.
"... Eeemmm, yasuda kalo gitu. Aku percayakan kamu aja kalo gitu. Segera shalat, ini sudah lewat jam makan siang. Jaga diri baik baik disana, jaga hatimu juga ❤️"
"Kalo gitu kita setuju, yaa. Baik kalo gitu,
sayang juga. Baikbaik disana yaa. Misyuu. "
"... Missyutu"
Singkat, namun cukup mengobati rindu ini. Kami tau semua tak akan mudah, terlebih perihal restu orang tua jelas saja itu tak akan mudah. Terkadang bosan itu ada, tapi kami selalu berusaha untuk tak saling pergi. Menguatkan satu sama lain, mempercayai hati yang masing-masing kami jaga untuk satu nama. Semoga itu yang senantiasa kami langitkan ke haribaan-Nya Yang Esa.
Langit siang itu mendung, seakan ikut merayakan kerinduan kami.
Segera aku bangkit, kembali ke dalam ruangan. Berjibaku dengan tumpukan kertas laporan yg tak kunjung menipis. Begitupun dengannya. Siang itu kami tutup dengan kembali menyibukkan diri, seraya berharap waktu cepat berputar untuk hari esok.
****

(part 7)

Rabu, 12 Agustus 2020

Jingga (?)

Sore itu selepas hujan, 
Langit begitu indah, 
Mendung tak lagi menggelayuti, 
Cerah jingga menyambut senja, 

Sore itu selepas hujan, 
Aku tersenyum, 
Lega, 
Tak lagi ada beban, 

Sore itu, 
Pada jingga yang berpijar cerah, 
Di langitNya, 
Sekali lagi aku menengadah, 
Meminta tak pernah lelah, 

Pada jingga di sore itu, 
Sekali lagi ku lantunkan, 
Untukku, untukmu 
Untuk kita, 

Selasa, 11 Agustus 2020

Stronger!

Apakabar? 
Tahun ini berat ya? 
Tak mengapa, tetap bersyukur 
Bukankah sampai hari ini kita masih bernafas? 

Tahun ini sungguh berat, bukan? 
Kehilangan pekerjaan, 
Kehilangan penghidupan, 
Kehilangan hati, 
Tak apa, tidak mengapa kamu kuat kamu hebat, 

Tahun ini benar-benar berat ya? 
Kita harus dihadapkan dengan masalah masalah pelik, 
Berhadapan dengan masalah masalah yg tak masuk akal bagi kita, 
Tak mengapa, sungguh tak apa 
Percayalah saja pada Tuhan. 

Setelah ini kamu akan terlahir kembali, percayalah. Kamu akan lebih kuat, lebih hebat dari kamu yg sebelumnya, 
Kenapa? Menangis? Menangislah, tuntaskan, selesaikan hari ini. Esok, dongakkan lagi wajahmu. Tunjukkan pada dunia bahwa Tuhan tak keliru memilihmu. Memilih kamu sebagai salah satu dari sekian banyak hambaNya yg hebat.. 

Senin, 10 Agustus 2020

Truth?

Aku tak tau, 
Kenapa lagi seperti ini, 
Sekali lagi temukan arti, 
Sekali lagi berlabuh, 

Tak apa, 
Tak mengapa, 
Setiap jalan selalu mengenal arah, 
Nikmati saja setiap keloknya, 
Hirup dalam dalam setiap aroma, 

Kamu benar, 
Ini tak akan mudah, 
Tak akan selalu,
Jadi, tetaplah disini. Di sampingku, 
Jangan lagi mengelana, 
Jangan lagi kemana, 

Kamis, 06 Agustus 2020

Struggle?

Ada. Yang di perjuangkan sekuat hati tapi tak bisa kamu miliki. 
Ada. Hati yang di jaga setengah mati tapi tak bisa dibersamai. 
Dan, ada. Sosok yang menguatkan tapi tidak untuk kamu sanding 
Maka berbesar hatilah, ikhlaskan lah. 
Langitkan semua harapmu dan berhentilah mengeluh. Tuhan tau, Tuhan senantiasa tau. 

Senin, 03 Agustus 2020

Calm?

Tidak, 
Tidak mungkin kali ini salah, 
Aku percaya, 
Dan aku benar-benar percaya. 
Mungkin hanya butuh waktu, 
Sedikit saja. 
Biarkan bunga itu merekah, 
Biarkan rasa itu tumbuh dg semestinya, 
Tak apa, bukankah kamu sudah terbiasa? 
Dengan keadaan sesulit apapun, 
Tenang saja, ia tak akan kemana
Sebab kamu sudah menjadi rumah untuknya pulang. 
Melepas semua lelah, membuang semua penatnya. 
Tenanglah, tenang

Sabtu, 25 Juli 2020

Someone who loved you, too much

Terimakasih, 
Atas kesediaan mu menerima semua kurangku
Terimakasih, 
Asbab kamu tak lagi menutup hati 
Terimakasih, 
Asbab kamu kembali aku bangkit
Dari keterpurukan atas pemikiran-pemikiran ku yang tak menentu. 
Pun terimakasih, karena kamu telah menjadi kuatku
Alasan mengapa aku tetap berdiri hingga hari ini
Sekali lagi, terimakasih 
Maka
Izinkan aku, 
Untuk kembali merayu Tuhan 
Dalam setiap sujud dan doaku
Di sepanjang malamNya
Fajar, 
Bahkan hingga jingga senja menampakkan indahnya
MerayuNya agar senantiasa ku dibersamakanmu hingga kelak waktu itu tiba. 

Minggu, 12 Juli 2020

Hei, be stronger dude!

Kriiiiiiingggg... 
"Assalamualaikum gil, apakabar? Gimana sudah dapat kerja, kah?" Suara dari seberang telpon ini tak asing bagiku, Mas Indra. Kakak tingkatku ketika aku masih kuliah, berkutat dengan banyak tugas dan kegiatan yg makin terasa tak berguna kini, dia juga merupakan kawan seperjuangan ketika kami menyelesaikan project di kota orang tepat taun lalu. Aahhh, rindunyaa. 
"Waalaikumussalam, mas. Kabar baik alhamdulillah. Sampean gimana disana?. Waaah, kebetulan masih belum nih mas, ada apa? "
" Gini gil, oiya alhamdulillah kabar baik juga disini. Gini, gini ini aku masih cari team buat project baru di kalibaru nantinya rencana ku aku mau ajak gabung agil lagi. Itupun kalo agil mau, soalnya aku pernah denger dari teman kita kalo agil udah gamau lagi ambil project ini. Nah, karna aku udah tau dan pernah kerja bareng agil jadi aku coba hubungi kamu. Kebetulan juga lokasinya ga terlalu jauh kan dari jember? Jadi, gimana? "
" Oke mas, aku siap. Kapan kita berangkat? " timpalku tanpa lagi berpikir panjang. Hei, aku butuh pekerjaan sekarang. Biaya hidup makin gila, kebutuhan ini itu di rumah harus segera terpenuhi, tidak bijak sekali jika ini harus lagi kulewatkan. 
" Kontrak cuma sampai desember loh, gil. Bener gapapa? " kembali mas indra meyakinkan. Aku tau betul bagaimana dia, orang baik yg terlalu baik dia enggan memberikan kepastian kepada siapapun jika hal tersebut belum benar-benar pasti. 
" Wkwkwk, c'mon dude. Kita sedang membutuhkan pekerjaan sekarang, it's oukay. Toh kita kerja bareng lagi kan mas, gapapa aku ambil"
" Hahahah kamu ga berubah, selalu tepat saat aku butuh kaya gini. Oke, setelah ini kelengkapan yg harus disiapkan ku send by WA. Sampai ketemu di jakarta hari sabtu besok, brother. "
" Okay, thanks a lot bruuh." lantas telpon pun mati. Tapi tunggu, hari sabtu? Sekarang? Kamis. Oh, no terlalu mepet untuk persiapan ku. Aku hanya menertawakan kegupuhan ku. Baru saja aku menerima telpon yg tanpa sadar bahwa sebenarnya aku membuat diriku underpresure sekali lagi. Baiklah, mari kita mulai langkah ini lagi. Bismillah, 
****
Siang itu sudah kusiapkan semua perlengkapan ku, lantas segera kuraih handphone, memberi kabar gembira ini kepada yg terkasih. 
"Hei, dear. Sudah siang, segera makan lantas shalat... "
" Ada kabar baik, dear. Pagi tadi aku dapat telepon dari teman project dulu, alhamdulillah aku di panggil lagi buat ngisi kekosongan team kalibaru. Sabtu besok aku berangkat training di jakarta. Besok bisa kutemui? "
Lama kutunggu balasan alfin, tidak seperti biasanya dia membalasnya lama gumamku. Mungkin sedang sibuk, bengkel dalam keadaan ramai jika seperti itu. Tak apa lah, aku bisa menyibukkan diri sebentar sambil menunggu balasan dari nya, 
" Le, sudah semua? " tiba-tiba mama menegurku sembari membawakan segelas kopi hangat untukku, 
" Sudah ma, sudah semuanya. Tinggal lusa berangkat. "
" Hati-hati disana ya, nak. Shalat, ingat. "
Aku tak membalas lagi ucapan mama, tersenyum lebar sudah dapat memberikan beliau banyak jawaban. Ia pun tersenyum ke arahku, mengusap-usap kepala sudah jadi kebiasaan baginya tatkala aku akan pergi kemanapun. Aku senang, kendatipun seringkali kami bertengkar, kendatipun terkadang mama begitu menjengkelkan tapi aku tau dia begitu menyayangiku. 
"Le, berapa hari disana? Makannya gimana? Terus nanti tidurnya dimana? Paklek Im di telpon ya nanti, biar bisa nyamperin kamu. Masker, sama semprot semprot tangannya jangan lupa... " papa pun jadi cerewet, tidak seperti biasanya pikirku. 
" Handsanitizer pa, bukan semprot semprot... " jawabku setengah meledek, haha. 
" Iya, itu pokoknya. Jangan lupa " 
Aku tau bagaimana beliau khawatir denganku, apalagi di tengah pandemi ini aku harus bepergian, tapi mau bagaimana lagi. Sudah jadi tugasku sebagai anak laki-laki pergi, berusaha untuk dapat membantu kedua orangtuanya. 
" Pah, mah. Aku cuma sampai hari jumat tgl 10 disana, setelah itu aku pulang. Lokasi kerjaku pun dekat dengan rumah, aku bisa pulang kapanpun aku mau. Jangan khawatir yaa, doakan saja setelah ini semuanya lancar. " jawabku kepada mereka berusaha menenangkan. Mereka diam, tak lagi berujar apapun. Tanda bahwa mereka mempercayaiku, aku tersenyum sembari kembali menata semua perlengkapanku selama disana nanti. 
" Hei. Maaf yaa baru sempat balas, bengkel chaos dear, rame banget. Ini aja aku baru bisa diem. Ini ada apa? Ada kabar apa? " notif yg di tunggu tunggu sedari tadi. Aku sudah tak sabar menceritakan semua kabar baik hari ini kepadanya. 
" Aku dapat telpon, dari mas indra. Dia butuh orang buat isi team nya. Project lagi yang, seperti taun kemarin, lusa aku berangkat training di jakarta." 
"Waaah, syukur. Alhamdulillah ya dear, but wait Jakarta? Hei, pandemi ini masih belum berakhir. Harus banget berangkat ya? " yaaah begitulah, lagi lagi aku harus meyakinkan. 
" Iyaa, alhamdulillah. Penempatan nya nanti dekat kok, di kalibaru. Kapanpun aku kepengen pulang, aku pulang. Disana cuma sampai tanggal 10 kok, setelah itu pulang. "
" Tapi nanti pulang kan? Ngga menetap disana kan... "
" No, dear. Aku pulang kok. Cuma sampai tgl 10 disana.. "
Lalu, percakapan itu berlanjut lama. Seperti biasa kami berkomunikasi. Sekelebat dalam benakku terlintas, betapa bersyukur nya aku saat ini banyak orang-orang baim di sekeliling ku. Tentu saja, aku sangat bersyukur dia ada di hidupku saat ini, wanita kuat yg senantiasa men-support ku. Seperti memberiku kekuatan baru disetiap harinya, hingga tak lagi terbesit untuk menyerah dalam hati ini. Terimakasih Tuhan, Terimakasih. 
***
(part 5)

Jumat, 03 Juli 2020

hei, wake up!

Kerap kali diri ini selalu menyalahkan keadaan. 
Padahal, keadaan tak sekalipun melukaimu. 
Bahkan cenderung dirimu sendiri yg terlena dengan keadaan. 
Terlena tatkala keadaan tak banyak menuntutmu bekerja lebih keras. 
Terlena tatkala keadaan memberimu apapa yg kamu inginkan. 
Terlena dengan semua fasilitas yg di berikan oleh sesuatu yg kita sebut "keadaan". 
Lantas, ketika keadaan menuntutmu untuk lebih lagi berkembang dari dirimu saat ini, kamu mengeluh? 
Ketika keadaan menarik lagi semua fasilitas yg pernah dia berikan, kamu marajuk? 
Padahal semua itu di lakukan keadaan untuk memberikan fasilitas yg lebih lagi. Oh, ayolah makhluk yg di beri nama manusia. Sadarkanlah dirimu, kamu mampu. Sebab itu Tuhan memberi "keadaan" untuk kita, semata membuat dirimu lebih baik lagi dari dirimu di waktu lampau. Sekali lagi, sadarlah! 

Rabu, 01 Juli 2020

Hei, be stronger dude!

"... Assholaa Tukhairum Minaaan Nauum.." Adzan subuh menggema. Menyingkap hangat balutan selimut, menggugah mata setiap sudut desa, mengajak semua insan tunaikan panggilanNYA. Lagi-lagi aku, tak kunjung pejam mata ini hingga subuh menggema. Padahal, sudah kurebahkan badan ini selepas isya tadi. Lagi-lagi, isi kepala ini tak dapat berkompromi memikirkan semua hal yang harusnya tak datang saat ini. 
"... Dear, subhi. Semogamu ga redup kan? Banguno, ayo shalat. " sebuah notif whatsapp dari alfin. Aku tersenyum membaca nya, hanya ku baca tak lagi kubalas. Aku belajar mengerti dan menghargai kesibukan nya di pagi hari. Dia wanita kuat, aku harus memujinya. Bagaimana tidak, bertahun tahun sejak ia masih di bangku sekolah dan ibunya jatuh sakit, ia harus mengerjakan semua keperluan rumah sendiri. Termasuk menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga. Ya, semuanya. Aku bangga padanya. 
Aku beranjak dari tempat tidur, berwudhu lalu bergegas menunaikan panggilaNYA. 
"... Om, tunggu aku. Aku ikut " Tiba-tiba kedua ponakanku menarik lengan baju ketika aku mulai hamparkan sajadah. Aku tersenyum, takzim kepada mereka. 
" Yasudah, buruan yuk. Kakak ajari Alin buat wudhu yaa, om tunggu" Lantas keduanya bergegas, berlari lari menuju kamar mandi dengan riangnya. 
" Semoga kalian menjadi kebanggaan keluarga ya le, ndok... " aku bergumam dalam hati, dan tak terasa menetes air mata tanpa perintah jelas dariku sendiri. Subuh itu, hari itu, dimulai dengan penuh syukur. Alhamdulillah. 
***
Matahari pagi kota Sidoarjo begitu terik, padahal jam baru menunjukkan pukul 08.15 tapi sungguh, hawa pengap ini membuat aku harus mandi 2kali di waktu yg tak begitu panjang jedanya. Sisa pagi hingga siang kusempatkan bercengkrama dengan kakak dan mbak juga si kakak Octa dan si kecil Alin, hari itu kakak sengaja mengosongkan jadwal service nya khusus untuk berkumpul dengan ku dan keluarganya. Obrolan ringan dan senda gurau pagi itu benar-benar membuat ku sangat bersyukur, lagi. 
"... Gimana dek, awakmu mau pulang sekarang tenan ta?" Mbak menyela obrolan ku dengan kakak 
"Iyo mbak, besok masih ada acara di Jember. Jadinya aku harus pulang hari ini "
"... Adek saiki punya pacar baru ma, mangkane dia serius banget nyari kerja. Ben iso datting tanpa mikir katanya. Hahahaha"  Sindir kakakku tanpa beban. Sungguh, sifat konyolnya membuat aku risih kadang. 
".. Waah, bagus toh yah. Wes punya ancang ancang berarti dia iku. Jadi kapan? Dikenalno nang mas dan mbak? " Timpal Mbak. Aku hanya tersenyum malu malu mau. 
" Dungakne aja mas, mbak." kujawab
"... Om aku juga mau ketemu ate. Kapankapan diajak kesini juga yaa.. Hihi" Kali ini si kakak Octa ikut nimbrung. Hei, sejak kapan bocah bocah ini belajar soal orang dewasa. 
Obrolan kami berlanjut. Banyak hal yg kami diskusikan. Mulai dari bercerita bagaimana pertemuan Mas dan mbak, seputar pekerjaan, hingga rencana kami membuka usaha keluarga. Jarak Sidoarjo-Jember sudah membuat mereka rindu kampung halaman rupanya.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11.20, aku beranjak untuk berpamitan kepada mereka. Tentu saja setelah drama membujuk kedua bocah kebanggaan ku itu, aku bisa segera berangkat pulang. 
".. Hatihati dek. Titip salam buat mama dan papa dirumah. Segera setelah ini kita pulang ke jember."
"Ya, mas. Hatihati juga disini... Hei, jangan nakal ya, nanti om ke sini lagi sama ate." 
"... Janji ya om " si kecil Alin jadi makin sipit karna menangis tak henti henti sedari tadi. Sudah seperti bakpao yg di masak terlalu matang begitulah kirakira
" Janji jari kelingking... " Ujarku memenangkan hatinya. 
Aku bergegas, setelah berpamit. Jember jadi tujuanku berikutnya. Lalu entah mana lagi tempat yg harus ku datangi, kesempatan yg mana lagi, aku tak perduli. Dimanapun ada, kemungkinan yg mana saja, harus ku hadapi. Dan Sidoarjo akan menjadi saksi nanti, saksi keberhasilan yg harus segera kuraih....

(part 4)

Selasa, 30 Juni 2020

Hei, be stronger dude!

Sudah tidak lagi terhitung berapa banyak kertas yang ku cetak, berapa banyak kemungkinan yang sudah ku coba, berapa banyak tempat yang ku tuju. Nyaris, hampir saja menyerah dengan keadaan, sungguh situasi ini membuat dada sesak. 
Siang itu kuputuskan untuk berangkat ke Sidoarjo, tujuanku berikutnya. Aku mendapat kabar untuk mengikuti serangkaian seleksi perekrutan karyawan baru. Alhamdulillah. 
"Le, atiati kalo berangkat. Dijaga shalatnya jangan makan telat, jangan sembarangan makan" Ujar Mama sembari ia menyiapkan keperluan ku, aku tak meminta nya tapi memang sejak dulu ia tak pernah bosan memanjakan anak bungsunya ini. Segala persiapan dan kebutuhan bak obat penenang ampuh baginya, sudah menjadi kebiasaan sejak dulu. 
"Iya ma, " singkat saja ku jawab. Begitupun papa, ia hanya tersenyum takzim melihatku merapalkan banyak doa penuh harap selepas magrib di waktu itu. Sebenarnya banyak hal berlalu lalang dalam kepala ini, jalan satu satunya hanya merapal wirit saja yg kubisa. Setidaknya itu ampuh untuk menenangkan gemulak hati yg tengah kurasakan. 
"Le, hatihati dijalan. Ndak usah terlalu dipikirkan, dijalani aja dulu, toh kan ya masih tes. Ndak usah banyak berharap, rejeki Allah itu luas" Aku terpaku dengan ucapan papa, sebagai penyemangat dan pengingat untuk ku bahwa dunia tak harus dikejar setengah mati. Pengingat bahwa Allah senantiasa bersamaku dalam keadaan apapun. 
"nggeh pa, InsyaAllah." singkat saja kujawabnya. Tak banyak berkomentar. 
Entah, aku tak banyak bicara hari itu. 
***
Matahari Sidoarjo sungguh tak masuk akal, panas menyengat seperti membakar permukaan kulit. Jengkal demi jengkal langkah yg nyaris gontai kutapaki, harap harap cemas tentang hasil test yg baru saja kulalui. Aku memutuskan berhenti sejenak, sekedar beristirahat merehatkan kaki di sebuah kedai kopi. Baru saja aku duduk, sebuah notif whatsapp di handphone ku. Alfin, nama itu muncul pada notif. 
"... Gimana test nya, dear?. Mudah mudahan segera ada kabar baik yaa... " bunyinya. Aku hanya tersenyum kecut membacanya, sepertinya tak baik bila aku menutupi hasil yg sebenarnya. Lantas segera ku balas. 
" Belum rezeki yang, aku gagal di tes konversi, padahal sudah mati-matian aku berusaha, tapi malang skorku cuma terpaut 0.2 angka saja. Maaf yaa... "
"... Hei, its oukay. Gapapa yang, kamu sudah berusaha. Oh, hei satu lagi. Dunia tak perlu kau kejar matimatian, dear. Sudahlah, belum rezeki memang, tak apa. Aku tetap bangga sama usahamu." 
Aku diam, termangu dengan kata-kata nya. Sungguh aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk pekerjaan itu. Tapi tetap saja, seperti semua sia-sia. Aku kesal dengan diriku sendiri, kenapa masih saja kurang. Belum sempat aku membalas, satu lagi notif darinya 
"... Dear, tak apa. Sungguh tak apa. Jangan berpikiran bahwa aku akan meninggalkan mu hanya karna saat ini kamu joblees. It's oukay, really. Kamu hatihati disana, kapanpun kamu pulang kabari aku, jangan menghilang apalagi menghindar, sungguh aku ga suka. Jangan memperkerdilkan dirimu. Kamu kuat, kamu hebat. Yaa, janji sama aku, kita lewati semua bareng bareng. Ok?... ". 
" Yaa, yang. I promised to you... "
"... Yasudah, hatihati sekali lagi. Kerjaan ku masih banyak, nanti malam kalo sempat telepon aku. Lafyu, dear..." 
"Iyaa. Lafyutu... "
Tak lagi ada balasan setelah itu. Mungkin dia tengah sibuk dengan banyak kertas dan laporan di tempat dia bekerja. Alfin, wanita yg menemukan ku tatkala aku terpuruk, yeah hingga saat inipun aku masih terpuruk. Ia dengan sabar menghadapi segala keluhku, telaten mendengar semua ocehan ku. Ia hadir ketika aku ditinggalkan begitu saja oleh wanita yg sempat aku banggakan dulu. Ah, sudahlah itu semua masa lalu yg buruk. 
Aku masih terdiam, sebdiri. Sebatang kretek yg aku sulut masih tak kuhisap, hingga kopi hitam pesanan ku pun beranjak dingin. Aku masih termangu sendiri memikirkan keadaan diri yg masih saja tak berguna. 
Jam di tangan menunjukkan tepat pukul 16.35, tak terasa aku sudah lama duduk sendiri. Kulangkahkan kaki pulang, kupaksa otakku berdamai dengan hati. Demi senyum dua keponakanku yg sudah menunggu kepulangan paman nya. Sebelumnya memang sudah kukabari kakak ku dan meminta izinnya untuk aku menginap semalam saja. Tentu saja kedua bocah itu girang tak terbendung lagi 
"... Asiiikk, o'om dateeng" kudengar si kecil alin dari sebrang telpon sana. 
"Yaudah dek, buruan pulang udah sore. Mas tak nganter bocil bocil ini ngaji... " kali ini kakak mulai meluruskan tanpa memperdulikan kedua bocah itu. 
".... Yaaaaahhh, libur dulu lah yaah. O'om dateng lo." Keluh si octa, 
"Nanti abis ngaji, main sepuasnya sama o'om. Ayo cepet... " Kakaku mulai membujuk mereka. 
" yauda dek cepet pulang, hatihati... " sambungnya.
Aku mengiyakan perkataan kakak, kututup telpon lalu bergegas menuju rumahnya. Hari itu ku tutup hari dengan perasaan berkecamuk, namun sedikit terobati ketika ocehan kedua ponakan ku di telpon tadi. Tak apa, setidaknya ada sedikit obat untuk diri ini. Bahkan mungkin, Tuhan pun tengah menghiburku dengan mendatangkan Jingga senja sore itu. Haaah, sungguh lelah rasanya. 

(part 3)

Kamis, 18 Juni 2020

Hei, be stronger dude!

Kamis siang, jadi perjalanan pertama aku mencari lagi. Sesuatu yang tidak asing lagi bagi banyak orang. Ya, bekerja. Mengupaya dengan segenap hati untuk tetap bertahan di tengah kerasnya kehidupan. 
Tak peduli lelah langkah, tak perduli bagaimana peliknya keadaan aku tak akan menyerah.
Teriknya panas mulai menyengat kulit, tak kunjung ada satu tempat untuk aku diterima bekerja. Nyaris putus asa, kusempatkan singgah di rumah Allah barangkali setelahnya hati ini sedikit sejuk terasa. Ku tanggalkan sepatu, ku letak kan ranselku di ujung masjid lalu melangkah untuk bersuci, kemudian membulatkan hati menghadap-Nya. Ruku' demi ruku', sujud demi sujud, ku berserah, pasrah sudah. Tak terasa tetes air mata mulai menggenang, basah mata di buatnya. Perasaan bersalah kepada semua orang yang menyayangi, rasa berdosa sebab telah banyak larangan yg tak ku indahkan menghunus perih rongga dada, seakan menghujam keras kepala. Aku bersimpuh, menghadap-Nya kembali.. 
Usai sudah, dzuhur telah berhasil ku taklukkan. Lega rasanya. 
Di pelataran, aku melihat sosok. Seorang pria renta tengah menyapu halaman, 
"Permisi kek, saya numpang istirahat sekalian makan siang nggeh, " sapaku tanpa pikir panjang. 
" Ya, nak. Silahkan. Ada air minum di ujung pintu, silahkan kalau mau minum.. " suaranya sungguh meneduhkan. Aku tak menjawab, hanya memandang penuh takzim kepada beliau. Tanpa sadar bahwa nyatanya ia berbicara tanpa memandang ku, pandangan nya berlawanan dengan arahku menghadap. Aku masih tertegun ketika ia mulai berbicara lagi, sambil tersenyum ia lalu berkata "... Saya buta nak, tidak bisa melihat. Bisa minta tolong tuntun saya ke arahmu? Saya mau duduk disebelahmu. Apa boleh?" 
Segera aku bangkit,  menuntun beliau 
"Eh, iya kek. Pelan pelan kek... " kami berdua saat itu, berbincang ringan hingga menjelang adzan ashar dikumandangkan. Banyak hal dalam perbincangan kami, soal hidup, bahkan cinta. Satu hal yg sangat ku ingat dari semua perbincangan itu adalah kata-kata nya yg begitu menenangkan untuk ku 
"Nak, dalam hidup memanglah seperti ini. Bukan karna Tuhan tak adil, bukan karna Tuhan tak lagi menyayangi mu, lebih lebih bukan karna Tuhan menghukum mu. Haram untuk kita berprasangka buruk terhadap Tuhan... "
Hening sejenak, lamat lamat ku cermati setiap katanya, 
"... Tuhan sedang mempersiapkan sesuatu yg besar untukmu, percayalah. Ia tak pernah tidur, Ia tau sebesar apa dirimu berusaha dan untuk apa usahamu itu. Maka, tetaplah bersabar sembari berdoa, tetaplah ikhtiar di iringi tawakal. Semoga segera tuntas, apa apa yg menjadi beban pikiranmu saat ini, nak " 
Aku terdiam, terkesima dengan semua perkataan nya. Bahkan, dengan segala kekurangan dan keterbatasan nya ia masih mampu berpikir positif. Sedangkan aku, yg masih Tuhan beri nikmat sehat lahir batin masih saja mengeluh, setiap hari tiada bosan mengeluh. Iillahi Rabbi, ampuni aku. 
"... Sudah waktunya ashar nak, ayo kita shalat bersama.. "
" eh, iya kek... Mari, kakek di depan. "
Beliau hanya tersenyum, lalu meminta ku menuntun nya melangkah. Benar benar damai, sore ini... Terimakasih, Allah. 

(part 2)

Senin, 15 Juni 2020

Hei, be stronger dude!

Hello, apakabar? 
Hahag, lagilagi bertanya kabar. Bosan sekali rasanya hanya kabar yang tak pernah lupa ku utarakan. Tak apalah, setidaknya ada satu hal penting yg tak pernah kulupakan, "kabar". 
Sekali lagi, apakabar? Semoga senantiasa selalu baik. Rasanya baru kemarin, diri ini benar-benar merasa baik baik saja. Waktu sebulan memang singkat sekali ya (sad). Kali ini, aku ga mau merangkai kata seperti yg biasa kulakukan pada blog ini, aku lebih ingin bercerita. Ready? Oke, let's start. 
Sebulan lalu, aku diterima bekerja disalah satu perusahaan farmasi, sebagai Medical Representative aku dituntut untuk bekerja mobile di setiap harinya. Jarak, lelah, penat tak aku hiraukan demi sebuah mimpi dan janji kepada yg terkasih. Yaa, aku bersyukur atas hadirnya untukku saat ini, benar-benar ingin aku jaga hingga tiba pada ujung waktu penantiannya, nanti. Terimakasih Tuhan. Terimakasih. 
Tepat di minggu lalu, aku deklarasikan perang terhadap waktu. Aku berjanji padanya juga pada diriku sendiri, kami berniat mengakhiri pencarian kami memulai untuk menabung, bersama. Merancang semuanya berdua, membangun pondasi yang kuat untuk kami berdua. Segala sesuatu nya sudah kami persiapkan, sebab keyakinan kami yg kuat kami putuskan keputusan ini. Bismillah. 
Namun, waktu seakan berhenti dunia tak lagi berputar pada poros utamanya (setidaknya itu yg aku rasakan saat itu), memo dari atasan tiba di tanganku. Ditengah siang yg terik di hari sabtu, sungguh itu pengalaman dan pelajaran yg tak akan aku ingin untuk kembali mengingatnya. Memo pemutusan hubungan kerja ku yg masih seumur benih tepat berada di tanganku saat itu. Hilang fokusku, hancur rasanya hati ini membayangkan nasib sebagai pengangguran lagi. Apa yg harus ku lakukan setelah ini? Apa yang akan aku katakan kepadanya? Haruskah lagilagi kukubur impian ini? Mengubur dalam dalam setiap bait harapan doanya. 
Tidak, aku tak akan lagi menyerah pada takdir. Sebab ku yakin, Tuhan senantiasa bersamaku itu yg kupegang teguh sampai hari ini. 
Kini aku tengah berusaha, berjuang sekali lagi untuk merubah takdir ini. Demi ku, demi dirinya, dan semua orang di sekelilingku... 
(part 1)

Jumat, 22 Mei 2020

Percayalah, Hati.

Setiap hati, ia punya rasa 
Setiap rasa selalu tersimpan asa
Asa yang senantiasa diperjuangkan 
Asa yang mati-matian ia pertahankan 
Asa yang selalu jadi alasan untuknya terus hidup, melangkah lalu berkembang
Bagaimana pun getir, bagaimana pun pahit
Ditelannya mentah-mentah
Sebagai wujud atas perjuangan nya
Lalu, percayalah pada Tuhan semua tak selalu buruk 
Tak selamanya jalan terjal itu ia tempuh
Percayalah, percayalah. 

Senin, 11 Mei 2020

Biarkan hati mu Ikhlas...

Selamat pagi... Bagaimana santap sahurnya? Mudah mudahan Allah berikan Rahmat tiada henti, di Ramadhan ini. Aamiin. 

Hari ini, satu lagi pelajaran yang tak mungkin pernah ku lupakan. Alhamdulillah. 
Mungkin benar, menempuh jalan baru tak selalu mulus, tak selalu sesuai dengan keinginan. Mungkin juga, Tuhan tengah berikan ujian untuk kami sekeluarga tiada henti bukan tanpa maksud, bukan tak bertujuan. Bukankah untuk naik kelas, haruslah melalui ujian terlebih dahulu? Bukankah untuk menjadi sarjana, haruslah melalui skripsi dan sekian banyak proses lainnya? Haha, perumpamaan itu yang paling aku pahami. 
Benar, saat ini tidak ada lagi yang bisa kami lakukan hanyalah bersabar menghadapi ujian ini. Ikhlas dalam setiap ikhtiar yang kami tempuh. Tawakal dalam segala ketetapan-Nya. Illahi Rabbi. 
Sebab keyakinan kami tak akan pernah goyah, bahwa setiap ketetapan Allah adalah yang terbaik untuk kami... 

Minggu, 10 Mei 2020

Ever?

Goedenavond... 

Boleh aku bertanya? 
Pernahkah diantara kalian merasa semua terlalu menjemukan? 
Merasa, semua orang terlalu asik dg topeng masing masing. Sedang kamu berusaha keras menyampaikan sejujur jujur nya. 
Lalu, muak dengan semua? Seakan akan ingin rasanya menekan tombol re-start untuk hidup ini? 
Pernahkah demikian, teman? 

Selasa, 05 Mei 2020

Hello?

Hello... 
Apakabarmu? 
Disana, apakah semua baik? 
Semoga demikian... 
Semoga semua senantiasa baik-baik saja. 

Kamu tau? 
Mungkin ini kali pertama aku jatuh hati dengan segudang tanya dan aneh bagiku. 
Bagaimana tidak, sebab kita tak pernah saling sapa, bertemu? Apalagi. 
Bagaimana mungkin lalu aku jatuh hati? Sulit dipercaya memang, tapi beginilah adanya. 
Kamu. Adalah orang asing itu, orang yg tak tau menau bagaimana aku di masalalu. 
Dan kamu, satu-satunya orang yg mampu meruntuhkan pertahanan yg kokoh ku bangun. Ya, semenjak dia yg dulu ku puja pergi tanpa alasan apapun. Sejak saat itu, kuat kuat ku bangun dinding kokoh penyekat hati. 
Terimakasih, kesediaan mu memberiku percaya adalah hal yg luar biasa. Terimakasih, sebab kamu kini aku tertawa (lagi). 
Setelah ini, semoga semua semogaku berlabuh untukmu. Untuk aku. Untuk semua. 

Minggu, 03 Mei 2020

Sad?

Senin, 4 Mei. Subuh. 
Sedih? 
Yaa, sepertinya memang. 
Sedih melihat kondisi saat ini. 
Sedih mendengar kabar ketika banyak teman seperjuangan harus menghadapi kenyataan PHK dimana mana. 
Sedih ketika menyadari bahwa banyak mimpi yg harus dikubur. 
Sedih tatkala semua tak kunjung membaik. 
Sedih, melihat tikus curut di ujung dapur sudah beranak pinak. Eh. 
Sedih, ketika tau semua tak berjalan seperti yg diharap. 
Sepertinya, sabar adalah satu-satunya cara untuk saat ini. Ditengah pandemi yg seperti tak berkesudahan ini. 
... Tuhan, Semua sudah cukup seperti ini. Jangan beri kami apapun lagi, dan jangan ambil apapun dari kami lagi...
Morishima Hodaka (Tenki no Ku) 
Sepertinya kutipan dari sebuah anime yg kutonton itu menjadi salah satu doa yg paling serius ku aamiin kan.. 

Sabtu, 02 Mei 2020

Lari?

Minggu, 3 Mei. Waktu dzuhur

Matahari siang di bulan ramadhan ini jelas jelas sudah tinggi, memberikan terik dan sedikit panas bagi semua orang. 
Aku tetap memilih kamar sebagai tempat ternyaman sebagai pelarian. 
Tidak, bukan lari dari kenyataan. Aku tengah bersiap, menghimpun tenaga dan menunggu waktu untuk ku meledak. Melesat. Tunggu saja. 
Tunggu dan lihat saja... 

Jumat, 01 Mei 2020

Jum'at, 1 Mei 2020

Untuk saat ini 
Biar saja dulu
Ditemani berlembar lembar buku usang
Memberi tanda pada apapun kalimat 
Sekarang
Sabar saja dulu
Tinggal tunggu waktu
Kendatipun abu, tak semua kelabu bukan?

 

Rabu, 29 April 2020

Salam sapa, dari seorang pemula

Hei, apakabar? Semoga senantiasa baik baik saja.
Ada banyak hal yg tak bisa di ucap, ada banyak hal yg tak bisa tersampaikan.
Sebab itu, aku memilih menulis untuk menyampaikan itu semua. Semoga suka, meskipun itu tidaklah harus. Sebab menulis bagiku adalah menulis. Silahkan kritik dan berikan saran supaya kita lebih banyak lagi belajar,
Selamat malam, selamat beristirahat.