Bukan Penulis~
Jumat, 02 Juli 2021
hei be stronger dude
Jumat, 30 Oktober 2020
eng ing enggg
People Changes
Seringkali kudengar bahwa setiap orang layak dan pasti akan berubah. Entah dari pribadi buruk menjadi lebih baik ataupun sebaliknya, dari baik menjadi buruk.
Apakah aku percaya? Tidak, tentu aku tak percaya. Bagiku, karakter dasar manusia adalah saklek, paten tak bisa di ubah sedikitpun. Berdasarkan logika ku, yg baik pasti akan bertambah baik, sedang orang buruk akan semakin buruk. Yaaah, begitulah mindset ku yg sama sekali keliru.
Jadi, ajukan ulang pertanyaan mu padaku. Lantas, percayakah kamu kini? Bukannya itu juga berlaku padamu? Tidakkah kamu merasakannya juga? Baiklah, mari sedikit kujabarkan bagaimana pandangan ku mengenai hal ini, kini.
Setiap dari kita memiliki hak yg sama untuk sebuah perubahan itu. Entah karena apapun alasannya, karena teman yg berkhianat kah, karena kekasih hati kah, bahkan sebab Tuhannya. Suatu ketika, aku mendengar kabar bahwa salah seorang teman juang telah lebih dulu dipanggil menghadap Sang IllahiRabbi, terpukul sekali ku mendengar. Padahal kami sempat berkabar beberapa waktu yg lalu, lantas kini ia terlebih dahulu pergi. Saat melayat, saudara kembarnya menemuiku, bersalaman, lantas memeluk ku erat sembari menahan isak nya yg dalam. Tak kuasa akupun ikut menangis, yaaa aku bukan orang yg kuat, perihal hati aku sangatlah rapuh. Kami berbincang, bercerita waktu-waktu sebelum ia menghembuskan nafasnya yg terakhir.
"Almarhum sempat bilang kalo dia merindukan kalian teman-temannya, terutama kamu gil.. " aku diam, tak bergeming sedikitpun. Lalu ia melanjutkan, "Tuhan Maha Segala. Sekarang aku benar benar percaya soal itu, kamu tau gil..." ia mengambil nafas dalam sekali, "... Kamu tau sendiri bagaimana aku dan dia dulu. Tabiat kami liar sekali. Sekali waktu, minum hingga mabuk, sekali waktu kami menggeber motor dengan kecepatan tinggi dijalanan. Tak takut mati, tak takut dosa. Tapi Tuhan Maha Segala, gil... Tepat setahun lalu kami bertobat, insyaAllah taubatan nasuha. Karena sesuatu yg tak bisa kusampaikan. "
"Lalu, bagaimana, dwik?" aku mencoba merespon dengan sedikit ragu untuk memulai,
"... Yaaa, gil. Alhamdulillah. Kamu gaperlu khawatir, almarhum sudah bertaubat. Itu yg membuatku sedikit tenang, meskipun masih berat merelakan."
"Yang terpenting, sampaikan alfatihah mu juga untuknya yaa... "
" Yaa, tentu. " jawabku singkat. Tak ada lagi kata setelah itu, kami sama sama tak bergeming. Mengheningkan cipta sejenak, untuk salah seorang sahabat juang. Yg tak pernah meninggalkan sahabat lainnya, apapun alasannya.
Kawan, bukalah pikiranmu bahwa setiap orang pasti berubah, berproses, dan hasil akhir hanya kita lah yg menentukan. Baik ataupun buruk. Bahkan seorang yg kutau betul bagaimana tabiatnya, ia mampu berubah, menjadi lebih baik dari dirinya diwaktu yg lalu. Jauh, lebih baik.
Jadi, bagaimanapun, percayalah bahwa perubahan itu pasti ada..
Sabtu, 26 September 2020
unknown feel.
Jumat, 11 September 2020
Syukur (?)
Selasa, 25 Agustus 2020
Hei, be stronger dude
Rabu, 19 Agustus 2020
Hei, be stronger dude
***
Siang itu mendung. Padahal jam dinding masih menunjukkan pukul 12.17, aku mulai gelisah khawatir hujan membuat perjalananku pulang terhambat, ah dasar aku.
"Jember hujan, dear... Jas hujanmu ga ketinggalan kan. Hati-hati, segera pulang. Misyu" sebuah notif dari alfin. Aku tak sempat membaca sebab berkutat dengan tumpukan kertas yang makin hari makin tebal saja, tak kunjung akhir. Jam berdentang menunjukkan tepat pukul 14.00. Sial. Lama sekali waktu ini berputar, gerutuku dalam hati. Kriiiiiiiiiiingggg, handphone ku berdering lantas segera kuraih.
" Dear, gausa ngebut. Aku tau kamu kepengen segera bertemu, tapi hati-hati. Gausa ngebut ngebut. Aku tetep nunggu kok... " suara dari sebrang telpon ini sangat aku rindukan, sosok yang selalu berhasil mencuri semua perhatian dariku, yang selalu menjadi sumber energi kedua setelah mama. Tak tega rasanya membuat dia khawatir seperti itu. Aku tak bicara banyak, hanya meng-iyakan setiap kekhawatiran dia. Lantas mengakhiri obrolan singkat itu. Jam dinding menunjukkan tepat pukul 15.00, berakhir sudah urusan hari ini. Sempat beberapa teman mengajak untuk sekedar ngopi di kedai langganan, sekedar melepas lelah sehabis bekerja. Namun dengan segala hormat kutolak baik-baik, sebab aku tak bisa lagi menunda kepulanganku hari ini. Sepertinya mereka pun memahami maksudku, lantas membiarkan aku bergegas pulang. Tanpa hujan, tanpa mendung siang itu. Cerah terik matahari, langit tersenyum padaku. Siang itu.
***
Tepat satu setengah jam perjalanan. Kutepikan motor untuk sejenak menunaikan shalat ashar. Usai tunai asharku, lantas kupacu motor segera menuju tempat kami bertemu sore ini. Tak sabar segera bertemu, kupacu sedikit lebih cepat menyusuri jalanan kota. Tunggu, tunggu aku. Sial sekali lagi, aku tak bisa tepat waktu untuk tiba sebab jalanan kota yg padat, macet dimana mana menguji kesabaran banyak orang yang tengah berburu waktu sama sepertiku. Mungkin memang bersamaan dengan jam pulang kantor, setengah emosiku terkuras dengan kemacetan ini. Setelah cukup lama aku berkutat dengan kemacetan jalanan kota sore itu, tiba juga aku di rest area jubung tempat dimana kami berjanji untuk bertemu.
" Maaf aku lama yaa, jalanan macet. Pada ngawur ngawur semuanya dijalan. Kesel, gatau orang buruburu banget... " keluhku.
" Hei, sudah tak apa. Yang penting kan selamat "
" Jadi kenalkan, ini wulan, enggar, mas pras.. Mereka temen-temen yg sering aku ceritakan, Mas.. " sambil tersenyum ia mengenalkan aku dengan beberapa teman teman yg juga dia ajak untuk berkumpul. Memang sebelumnya dia bilang ngajakin teman temannya yg lain. Tapi tetap saja, aku kikuk di awal pertemuan dengan orang-orang baru, selalu begitu.
" Agil, saya agil... " lantas aku memperkenalkan diri meskipun kaku.
"Hei mas , enggar ... "
" Wulan mas..."
"Pras, Mas Pras ... hehehehe"
Lantas mereka memperkenalkan diri satu per-satu. Obrolan kami terasa menyenangkan sore itu, tak jarang tawa kami meledak sebab hal-hal konyol yang mereka bincangkan. Aku hanya senyam-senyum mendengarkan mereka, sesekali nyelentuk , kebanyakan diam. Tak apa , situasi seperti ini yg aku perlukan saat ini. Tertawa lepas sejenak melepas penat, meskipun dalam kepala banyak hal yang berlalu lalang memikirkan banyak hal.
"Hei, jangan melamun. Apasih yang dipikirkan?" tangan mungil itu menggapai lenganku, aku terkejut.
"Eh, ngga kok. aku ga ngelamun... hehe "
"Jangan bohong, aku tau kamu. Kalo sudah begini, tentu ada hal yg kamu pikirkan kan ?
Tak apa , Mas. semua baik-baik saja. Yaaa?"
Aku tak menanggapinya dengan kata, tersenyum sudah jadi cara terampuh bagiku memenangkan kemelut dalam hati. Pun demikian, ia juga selalu mengerti bahwa senyuman selalu memberinya jawaban atas segala risau kami. Begitulah ia, selalu berhasil meruntuhkan semua keraguanku tak hanya atas diriku sendiri bahkan segala hal yang terlalu banyak kupikirkan. Sore itu jingga kembali ke peraduannya berganti rembulan malam yang meskipun tak terlalu terang, tapi cahayanya menenangkan kepada siapapun , setiap insan. Lantas kami semua memutuskan untuk pulang, berpamitan satu sama lain
"Boleh nih kapan-kapan kita maen bareng," celetuk si Enggar
"Oh, jelas. Boleh banget. gimana mas ?" timpal si Pras. Sial, baru juga kenal kenapa mereka sepercaya ini mengajakku bergabung. Sungguh, aku tak se-asik itu menjadi teman bincang.
"Eeee, iya boleh. Tinggal pas-in liburnya aja kalo barengan.." astaga mulut ini berucap semaunya tanpa perintah jelas dari otakku.
"Oke, fix. Biar si Alfin yg atur soal si Mas-nya. Kita pastiin aja ntar tanggalnya" timpal si Wulan
Lantas mereka serempak menjawab "setuju" nyaris bersamaan. Yaaa, tak apalah sesekali aku harus sering sering keluar, pikirku.
Setelah semua setuju dan sempat berdiskusi dengan Alfin perihal ijin ke Ibu nanti, kami bergegas untuk pulang. Sebab petang sudah tak lagi bisa ditawar.
Cahaya lampu menerangi jalanan Kabupaten yang kami lalui, ramai dan macet arus lalu lintas sudah acuh kuhiraukan. Rindu ini terobati hari ini. Dan pulang menjadi tujuan kami, tentu saja pulang bersama dalam satu rumah tengah kami upayakan, sekeras hati.
****
(part 8)