Minggu pagi. Waktu yang kami sepakati untuk hangout bareng, jadilah aku bersiap sejak pagi untuk menjemput Alfin di rumahnya. Kira-kira setengah jam perjalanan dari rumah menuju rumahnya, meskipun ini bukan kali pertama aku berkunjung ataupun menjemputnya tapi tetap saja aku berdebar. Tibalah aku akhirnya, kuparkir motor lantas melangkah menuju teras rumahnya seraya mengucap salam,
"Assalamualaikum, " kebetulan sekali ibu yang menyambutku datang
" Waalaikumsalam, oh kamu le? " sahut ibu dari dalam rumah. Lantas bergegas aku salim,
" Al, ada bu? "
" Ada, iku lagi siap-siap nang jero le. Samean arepe nangdi? (kamu mau kemana?) "
" Engg, nganu bu... Mau keluar. Bareng Wulan juga kok bu, " menjawab pertanyaan ibu aku jadi sedikit gupuh, alihalih memberi jawaban malah terkesan beralasan.
" Healah, arepe dolan toh? (healah, mau main toh?) “ kata ibu setengah menggoda.
" Yuk Mas, dah siap aku. Buk, aku berangkat yaa sama Mas. " belum juga reda ibu nggojlok jawabanku tadi, Alfin keluar seraya salim. Aku diam sebentar. Cantik. Dalam hati aku bergumam sendiri, mematung 3detik sebab kagum terhadapnya.
" Hmm, anak wedok ku wis prawan. Yowis atiati lo le. Ojo malem malem lek muleh." (hmm, anak perempuanku sudah gadis. Yasudah, hatihati ya le. Jangan malam malam kalau pulang).
" Eeh, iya bu. Saya pamit... Assalamualaikum, bu" masi dalam lamunanku aku tergopoh gopoh pamit pada ibu. Lantas kami berangkat. Alfin hanya senyum meledek laku ku di hadapan ibu tadi.
"Kenapa kamu senyam senyum aja daritadi? " kataku. Mataku masih awas memperhatikan lurus ke depan,
" Hahaha gapapa, dear. Lucu aja ngeliat kamu bicara sama ibu. Sepertinya kamu pernah cerita deh, kalo waktu masih kuliah kemarin kamu sempat masuk di divisi pengkaderan, " dia masih tergelak sambil bercerita,
" Yaa, memangnya apa hubungannya yang? Gaada hubungannya deh "
" Yaa ada dong. Kamu kalo ngader kan galak sama juniormu, nah ini kamu kaya harimau hilang taringnya di depan ibu.. Hahahaha" Lagi lagi dia meledek,
"Hahaha yauda sih yang, masa iya aku mau ikutan galak ke ibu. Bisa-bisa ga di kasih ijin lagi dong kita. Ada-ada aja sih... "
Dia tertawa mendengar jawabanku. Sepanjang jalan kami bercerita, banyak hal. Tanpa terasa waktu berputar cepat.
Sampailah kami di tempat kami berjanji untuk bertemu semua. Nampak si Wulan dan Mas Pras sudah melambaikan tangannya, sepertinya mereka sudah lama menunggu kami.
"Heeeei, maafkan kami lama yaa? Udah daritadi?" Alfin memulai percakapan,
"Haduuuh emang yaa kalo pasangan lagi kasmaran tu di lama lamain dijalannya, menikmati jalanan kota, gapeduli macet panas, badaipun cuma kaya remahan biskuit terbang gitu aja. " Wulan mulai nyerocos bak kereta api kehilangan kendali remnya. Aku tertawa mendengar mereka berdua berdebat, saling ledek dan diakhiri dengan tertawa. Senang sekali rasanya mendengar.
" Sorry ya Wulan, Mas Pras jadi nungguin lama... " kataku
" Santai aja kali mas, udah biasa aku dengerin mereka berdua seperti ini. Wkwk.
Jadi, gimana Jember minggu minggu gini mana padet dengan Banyuwangi sana... " sahut Mas Pras berusaha lebih akrab. Akupun menanggapi dengan banyak cerita, mulai dari pengalaman dijalanan kota Banyuwangi, kultur khas budaya, percakapan orang orang di warung kopi dan banyak lagi. Obrolan kami mengalir, enjoy walau tanpa kretek sehari itu. Maklum, sebagai laki-laki kami tetap menjaga wanita kami. Sebab mereka tak bisa terkena asap rokok sedikitpun.
"Yaa, gini nih. Laki ketemu laki, udah. Obrolannya panjaaaaang banget. Ngahahaha" ditengah obrolanku dengan Mas Pras, Alfin nyelentuk.
Kami berempat lantas melanjutkan obrolan siang itu. Menikmati beberapa minuman dan makanan ringan yang sudah kami pesan sebelumnya, sesekali membahas tentang rencana rencana satu sama lain. Siang itu menyenangkan.
" Jadi, gimana kalian kedepannya? Sudah ada rencana? " nyaris tersedak kopi hangat aku mendengar celentukan si Wulan.
" Iya nih, kapan? Jangan kelamaan, " Mas Pras menambahi
Kami berdua saling tatap sebentar,
" Doakan saja, yaa.. " nyaris serentak menjawab bersamaan, tanpa aba-aba. Saling tatap lagi, lantas tertawa terpingkal bersama. Wulan dan Mas Pras hanya geleng geleng melihat tingkah kami kali ini,
" Ternyata memang sama aja ya, lan. Semoga mereka jodoh yaa " Kata Mas Pras terhadap Wulan
" Iya mas, mudah mudahan deh "
Siang itu terasa cepat sekali berlalu, tak terasa sinar Jingga Ashar perlahan mulai menampakkan diri. Pertanda sore segera tiba, aku dan Alfin pamit lebih dulu. Tak banyak bertanya, apalagi nggojlok kami berdua, mereka meyilakan. Sepertinya mereka paham betul bagaimana keadaan Alfin. Yaa, wanitaku ini tak bisa kubawa seenak jidat. Dia begitu disayangi seluruh anggota keluarga, jadi tiap kali kami ingin hangout harus melalui beberapa ijin dulu dari ibu, mas dan bapak.
"Dear, tak apa kan kita pulang lebih awal seperti ini? "
"... Gapapa yang, memangnya kenapa?"
"Ya ngga, kita jarang ketemu. Sekalinya ketemu ga lama, mana harus ijin dulu dan lain lainnya... "
Aku selalu gemas melihat wajahnya yang cemberut, selalu suka melihat rona wajahnya yang memerah tatkala menghadapi situasi seperti ini.
"... Hei, gapapa sayang. Nanti, kalau sudah serumah kan jadi sering ketemu. Sabar, ya, lagian juga kan tandanya mereka peduli sama kamu, jadi gapapa kok "
" Tapi, kan.... "
"... Hm? Kenapa? Masih kangen?"
"Iyaaa, huu "
"... Yauda, dilama-lamain yuk jalannya"
"Hei, hahaha, selalu saja kamu punya cara. Yauda, hayuk kita jalan "
Lagi-lagi, aku tersenyum melihat tingkahnya. Lucu, tapi tetap anggun dimataku. Kupacu motor kesayangan ku sedikit lebih lambat dari biasanya, menikmati mentari sore, berdua. Bercerita tentang apapun, kami menikmati semua.
"... Yang, sudah cukup yuk. Kita berhenti aja, udah capek " kucoba memulai percakapan
" Ngomong apasih? Jangan ngelantur gitu ah ngomongnya, "
"... Iya berhenti. Udah capek nyari, sekarang udah ada kamu. Udah capek jalan sendiri, sekarang ada kamu. Kita sama sama ya,"
"Hih, paling bisa dah. Gombal teros "
"... Serius, yang."
"Yauda kita jalan bareng bareng, dear. Ini kan udah sama sama. Banyak berdoa aja, "
Yaa, benar kita sekarang kita telah bersama. Semoga kami tak pernah pupus.
Semoga kami tak pernah pudar.
Senja, kemacetan kota, jalan kabupaten, jadi teman perjalanan kami sore itu.
Satu jam kami berkendara, setibanya di rumah Alfin aku segera pamit sebab sore telah menjelang. Ibu mengantarku sampai depan pintu, sepertinya tak ada masalah sebab kami sedikit terlambat tiba. Lantas aku pun pulang. Sepanjang jalan pulang rekah semyumku tak henti, masih teringat rona merah jambu di senyumnya. Masih terngiang gelak tawanya, sungguh rindu ini selalu ada.
Sesampainya di rumah, aku disambut mama di pelataran rumah. Sepertinya memang menungguku pulang,
"Dari mana le? Senyam senyum ae tak liatin "
"... Hehe abis dari jember ma, jalan."
"Hmmm, ngerti banget mama anak e mama satu ini pasti lagi kasmaran. Anak mana? Siapa? Kok mama gatau? " terus didesaknya aku
"... Apatoh ma ini, hahhaa. Dah, ah aku mau mandi. Belum shalat, lafyu mam."
"Hei, gasopan. Diajak ngobrol orangtua mesti koyok ngunu. "
Aku terkekeh mendengar mama terus berceloteh, mengejarku menuntut jawaban. Aku melangkah ke kamar mandi, bau matahari dan jalan membuat badanku campur aduk baunya. Kok Alfin ga bau ya, pikirku. Haha
" Anak e awadewe wis joko ya, ma.. " kata papa
" Iyo e pa, maringene wis wayahe. Mugo diparingi lancar kabeh lah wis, ojo dipenging penging." (iya pa, sebentar lagi sudah tiba waktunya. Semoga diberi kelancaran lah ya. Jangan di larang larang)
"yoiyo ma, aamiin "
Aku sempat menguping pembicaraan mereka sebentar, tertawa geli mendengarnya. Lantas tak ku hiraukan lagi apa saja yg jadi pembicaraan mereka. Aku bergegas mandi, dan segera menunaikan tugasku sebagai muslim. Lantas ku lemparkan tubuhku diatas kasur, merebahkan badan.
***
(part 9)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar