Kamis, 13 Agustus 2020

Hei, be stronger dude

Bulan pertama aku di tempat baru. Banyak hal baru yang aku hadapi disini. Orang orang baru, lingkungan baru, suasana baru. Syukur tiada henti kupanjatkan pada-NYa,
"...hari ini bosan ya " si Erwin tiba-tiba nyelentuk
" masa gaada kerjaan sama sekali. Gabut. Hari-hari membosankan... " terus saja dia mengomel sendiri. Tidak lagi aku hiraukan, kupasang earphone, now played ~ pergi, hilang, lupakan salah satu list lagu favorit yang ada di mediaplayerku. Hei, sepertinya tepat kudengarkan ketika kawanku satu ini sedang mengoceh hal-hal yang ga penting seperti ini.
"... Wwwoooee. Dengerin kek orang ngomong ". Aku terkekeh mendengar protes si Erwin. " iya win, ada apa? "
" Ga jadi! " Jawabnya ketus.
Aku hanya senyam senyum merespon nya, sudahlah biarkan dia. Mungkin sedang jenuh dengan pekerjaan kami yang memang terkesan monoton ini.
***
Tengah hari. Terik matahari seperti tak menembus permukaan bumi Kalibaru, dingin nya hawa masih saja tetap terasa. Karena memang daerah pegunungan, jadi wajar saja. Ku gulir layar handphone, whatsapp jadi aplikasi pertama yang selalu ku buka ketika jam makan siang tiba.
"Hei, dear. Sudah siang. Sudah shalat? Makan, jangan telat " pesan singkat itu segera melayang, sampai pada notifnya. Menjadi kebiasaan bagiku untuk tetap berkabar. Meski jarak kita tak terlalu jauh, namun tetap menjaga komunikasi adalah hal yang wajib untuk tetap menjaga komitmen kami. Menyempatkan berkabar ditengah kesibukan.
"... Hmmm, makan terooos. Ntar aku gendut kamu gamau loooh yang. " hanya beberapa menit dia membalas. Aku tertawa membaca isi balasan itu. Lantas kami terus saling berbalas pesan, seperti biasa.
" Kapan pulang. Sudah rindu.. "
"... Lusa aku pulang. Esok harinya kita jalan. Mau?"
"Tentu saja mau, pertanyaanmu aneh. Tapi, gimana ijin dengan ibu, yang? "
Sejenak aku tersenyum membaca nya, membayangkan rona wajahnya yang selalu merah muda tatkala ia cemberut, tersenyum, bingung, bahkan gelisah. Yaa, memang hubungan kami belum juga diketahui oleh keluarga kami masing-masing. Ada banyak pertimbangan kami untuk saling mengenalkan, sebab bahasa "pacar" memang sedikit meragukan untuk keseriusan bagi keluarga kami masing-masing. Jadi, kami berkomitmen jika nanti telah siap satu sama lain dan keadaan memungkinkan, kami akan maju bersama. Menghadap dan meminta izin untuk ke jenjang selanjutnya.
"Gapapa, nanti biar aku yg ijinin ke ibu ya. Pagi berangkat, sore kita sudah dirumah." lantas kujawab seperti itu.
"... Eeemmm, yasuda kalo gitu. Aku percayakan kamu aja kalo gitu. Segera shalat, ini sudah lewat jam makan siang. Jaga diri baik baik disana, jaga hatimu juga ❤️"
"Kalo gitu kita setuju, yaa. Baik kalo gitu,
sayang juga. Baikbaik disana yaa. Misyuu. "
"... Missyutu"
Singkat, namun cukup mengobati rindu ini. Kami tau semua tak akan mudah, terlebih perihal restu orang tua jelas saja itu tak akan mudah. Terkadang bosan itu ada, tapi kami selalu berusaha untuk tak saling pergi. Menguatkan satu sama lain, mempercayai hati yang masing-masing kami jaga untuk satu nama. Semoga itu yang senantiasa kami langitkan ke haribaan-Nya Yang Esa.
Langit siang itu mendung, seakan ikut merayakan kerinduan kami.
Segera aku bangkit, kembali ke dalam ruangan. Berjibaku dengan tumpukan kertas laporan yg tak kunjung menipis. Begitupun dengannya. Siang itu kami tutup dengan kembali menyibukkan diri, seraya berharap waktu cepat berputar untuk hari esok.
****

(part 7)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar