Sabtu, 25 Juli 2020

Someone who loved you, too much

Terimakasih, 
Atas kesediaan mu menerima semua kurangku
Terimakasih, 
Asbab kamu tak lagi menutup hati 
Terimakasih, 
Asbab kamu kembali aku bangkit
Dari keterpurukan atas pemikiran-pemikiran ku yang tak menentu. 
Pun terimakasih, karena kamu telah menjadi kuatku
Alasan mengapa aku tetap berdiri hingga hari ini
Sekali lagi, terimakasih 
Maka
Izinkan aku, 
Untuk kembali merayu Tuhan 
Dalam setiap sujud dan doaku
Di sepanjang malamNya
Fajar, 
Bahkan hingga jingga senja menampakkan indahnya
MerayuNya agar senantiasa ku dibersamakanmu hingga kelak waktu itu tiba. 

Minggu, 12 Juli 2020

Hei, be stronger dude!

Kriiiiiiingggg... 
"Assalamualaikum gil, apakabar? Gimana sudah dapat kerja, kah?" Suara dari seberang telpon ini tak asing bagiku, Mas Indra. Kakak tingkatku ketika aku masih kuliah, berkutat dengan banyak tugas dan kegiatan yg makin terasa tak berguna kini, dia juga merupakan kawan seperjuangan ketika kami menyelesaikan project di kota orang tepat taun lalu. Aahhh, rindunyaa. 
"Waalaikumussalam, mas. Kabar baik alhamdulillah. Sampean gimana disana?. Waaah, kebetulan masih belum nih mas, ada apa? "
" Gini gil, oiya alhamdulillah kabar baik juga disini. Gini, gini ini aku masih cari team buat project baru di kalibaru nantinya rencana ku aku mau ajak gabung agil lagi. Itupun kalo agil mau, soalnya aku pernah denger dari teman kita kalo agil udah gamau lagi ambil project ini. Nah, karna aku udah tau dan pernah kerja bareng agil jadi aku coba hubungi kamu. Kebetulan juga lokasinya ga terlalu jauh kan dari jember? Jadi, gimana? "
" Oke mas, aku siap. Kapan kita berangkat? " timpalku tanpa lagi berpikir panjang. Hei, aku butuh pekerjaan sekarang. Biaya hidup makin gila, kebutuhan ini itu di rumah harus segera terpenuhi, tidak bijak sekali jika ini harus lagi kulewatkan. 
" Kontrak cuma sampai desember loh, gil. Bener gapapa? " kembali mas indra meyakinkan. Aku tau betul bagaimana dia, orang baik yg terlalu baik dia enggan memberikan kepastian kepada siapapun jika hal tersebut belum benar-benar pasti. 
" Wkwkwk, c'mon dude. Kita sedang membutuhkan pekerjaan sekarang, it's oukay. Toh kita kerja bareng lagi kan mas, gapapa aku ambil"
" Hahahah kamu ga berubah, selalu tepat saat aku butuh kaya gini. Oke, setelah ini kelengkapan yg harus disiapkan ku send by WA. Sampai ketemu di jakarta hari sabtu besok, brother. "
" Okay, thanks a lot bruuh." lantas telpon pun mati. Tapi tunggu, hari sabtu? Sekarang? Kamis. Oh, no terlalu mepet untuk persiapan ku. Aku hanya menertawakan kegupuhan ku. Baru saja aku menerima telpon yg tanpa sadar bahwa sebenarnya aku membuat diriku underpresure sekali lagi. Baiklah, mari kita mulai langkah ini lagi. Bismillah, 
****
Siang itu sudah kusiapkan semua perlengkapan ku, lantas segera kuraih handphone, memberi kabar gembira ini kepada yg terkasih. 
"Hei, dear. Sudah siang, segera makan lantas shalat... "
" Ada kabar baik, dear. Pagi tadi aku dapat telepon dari teman project dulu, alhamdulillah aku di panggil lagi buat ngisi kekosongan team kalibaru. Sabtu besok aku berangkat training di jakarta. Besok bisa kutemui? "
Lama kutunggu balasan alfin, tidak seperti biasanya dia membalasnya lama gumamku. Mungkin sedang sibuk, bengkel dalam keadaan ramai jika seperti itu. Tak apa lah, aku bisa menyibukkan diri sebentar sambil menunggu balasan dari nya, 
" Le, sudah semua? " tiba-tiba mama menegurku sembari membawakan segelas kopi hangat untukku, 
" Sudah ma, sudah semuanya. Tinggal lusa berangkat. "
" Hati-hati disana ya, nak. Shalat, ingat. "
Aku tak membalas lagi ucapan mama, tersenyum lebar sudah dapat memberikan beliau banyak jawaban. Ia pun tersenyum ke arahku, mengusap-usap kepala sudah jadi kebiasaan baginya tatkala aku akan pergi kemanapun. Aku senang, kendatipun seringkali kami bertengkar, kendatipun terkadang mama begitu menjengkelkan tapi aku tau dia begitu menyayangiku. 
"Le, berapa hari disana? Makannya gimana? Terus nanti tidurnya dimana? Paklek Im di telpon ya nanti, biar bisa nyamperin kamu. Masker, sama semprot semprot tangannya jangan lupa... " papa pun jadi cerewet, tidak seperti biasanya pikirku. 
" Handsanitizer pa, bukan semprot semprot... " jawabku setengah meledek, haha. 
" Iya, itu pokoknya. Jangan lupa " 
Aku tau bagaimana beliau khawatir denganku, apalagi di tengah pandemi ini aku harus bepergian, tapi mau bagaimana lagi. Sudah jadi tugasku sebagai anak laki-laki pergi, berusaha untuk dapat membantu kedua orangtuanya. 
" Pah, mah. Aku cuma sampai hari jumat tgl 10 disana, setelah itu aku pulang. Lokasi kerjaku pun dekat dengan rumah, aku bisa pulang kapanpun aku mau. Jangan khawatir yaa, doakan saja setelah ini semuanya lancar. " jawabku kepada mereka berusaha menenangkan. Mereka diam, tak lagi berujar apapun. Tanda bahwa mereka mempercayaiku, aku tersenyum sembari kembali menata semua perlengkapanku selama disana nanti. 
" Hei. Maaf yaa baru sempat balas, bengkel chaos dear, rame banget. Ini aja aku baru bisa diem. Ini ada apa? Ada kabar apa? " notif yg di tunggu tunggu sedari tadi. Aku sudah tak sabar menceritakan semua kabar baik hari ini kepadanya. 
" Aku dapat telpon, dari mas indra. Dia butuh orang buat isi team nya. Project lagi yang, seperti taun kemarin, lusa aku berangkat training di jakarta." 
"Waaah, syukur. Alhamdulillah ya dear, but wait Jakarta? Hei, pandemi ini masih belum berakhir. Harus banget berangkat ya? " yaaah begitulah, lagi lagi aku harus meyakinkan. 
" Iyaa, alhamdulillah. Penempatan nya nanti dekat kok, di kalibaru. Kapanpun aku kepengen pulang, aku pulang. Disana cuma sampai tanggal 10 kok, setelah itu pulang. "
" Tapi nanti pulang kan? Ngga menetap disana kan... "
" No, dear. Aku pulang kok. Cuma sampai tgl 10 disana.. "
Lalu, percakapan itu berlanjut lama. Seperti biasa kami berkomunikasi. Sekelebat dalam benakku terlintas, betapa bersyukur nya aku saat ini banyak orang-orang baim di sekeliling ku. Tentu saja, aku sangat bersyukur dia ada di hidupku saat ini, wanita kuat yg senantiasa men-support ku. Seperti memberiku kekuatan baru disetiap harinya, hingga tak lagi terbesit untuk menyerah dalam hati ini. Terimakasih Tuhan, Terimakasih. 
***
(part 5)

Jumat, 03 Juli 2020

hei, wake up!

Kerap kali diri ini selalu menyalahkan keadaan. 
Padahal, keadaan tak sekalipun melukaimu. 
Bahkan cenderung dirimu sendiri yg terlena dengan keadaan. 
Terlena tatkala keadaan tak banyak menuntutmu bekerja lebih keras. 
Terlena tatkala keadaan memberimu apapa yg kamu inginkan. 
Terlena dengan semua fasilitas yg di berikan oleh sesuatu yg kita sebut "keadaan". 
Lantas, ketika keadaan menuntutmu untuk lebih lagi berkembang dari dirimu saat ini, kamu mengeluh? 
Ketika keadaan menarik lagi semua fasilitas yg pernah dia berikan, kamu marajuk? 
Padahal semua itu di lakukan keadaan untuk memberikan fasilitas yg lebih lagi. Oh, ayolah makhluk yg di beri nama manusia. Sadarkanlah dirimu, kamu mampu. Sebab itu Tuhan memberi "keadaan" untuk kita, semata membuat dirimu lebih baik lagi dari dirimu di waktu lampau. Sekali lagi, sadarlah! 

Rabu, 01 Juli 2020

Hei, be stronger dude!

"... Assholaa Tukhairum Minaaan Nauum.." Adzan subuh menggema. Menyingkap hangat balutan selimut, menggugah mata setiap sudut desa, mengajak semua insan tunaikan panggilanNYA. Lagi-lagi aku, tak kunjung pejam mata ini hingga subuh menggema. Padahal, sudah kurebahkan badan ini selepas isya tadi. Lagi-lagi, isi kepala ini tak dapat berkompromi memikirkan semua hal yang harusnya tak datang saat ini. 
"... Dear, subhi. Semogamu ga redup kan? Banguno, ayo shalat. " sebuah notif whatsapp dari alfin. Aku tersenyum membaca nya, hanya ku baca tak lagi kubalas. Aku belajar mengerti dan menghargai kesibukan nya di pagi hari. Dia wanita kuat, aku harus memujinya. Bagaimana tidak, bertahun tahun sejak ia masih di bangku sekolah dan ibunya jatuh sakit, ia harus mengerjakan semua keperluan rumah sendiri. Termasuk menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga. Ya, semuanya. Aku bangga padanya. 
Aku beranjak dari tempat tidur, berwudhu lalu bergegas menunaikan panggilaNYA. 
"... Om, tunggu aku. Aku ikut " Tiba-tiba kedua ponakanku menarik lengan baju ketika aku mulai hamparkan sajadah. Aku tersenyum, takzim kepada mereka. 
" Yasudah, buruan yuk. Kakak ajari Alin buat wudhu yaa, om tunggu" Lantas keduanya bergegas, berlari lari menuju kamar mandi dengan riangnya. 
" Semoga kalian menjadi kebanggaan keluarga ya le, ndok... " aku bergumam dalam hati, dan tak terasa menetes air mata tanpa perintah jelas dariku sendiri. Subuh itu, hari itu, dimulai dengan penuh syukur. Alhamdulillah. 
***
Matahari pagi kota Sidoarjo begitu terik, padahal jam baru menunjukkan pukul 08.15 tapi sungguh, hawa pengap ini membuat aku harus mandi 2kali di waktu yg tak begitu panjang jedanya. Sisa pagi hingga siang kusempatkan bercengkrama dengan kakak dan mbak juga si kakak Octa dan si kecil Alin, hari itu kakak sengaja mengosongkan jadwal service nya khusus untuk berkumpul dengan ku dan keluarganya. Obrolan ringan dan senda gurau pagi itu benar-benar membuat ku sangat bersyukur, lagi. 
"... Gimana dek, awakmu mau pulang sekarang tenan ta?" Mbak menyela obrolan ku dengan kakak 
"Iyo mbak, besok masih ada acara di Jember. Jadinya aku harus pulang hari ini "
"... Adek saiki punya pacar baru ma, mangkane dia serius banget nyari kerja. Ben iso datting tanpa mikir katanya. Hahahaha"  Sindir kakakku tanpa beban. Sungguh, sifat konyolnya membuat aku risih kadang. 
".. Waah, bagus toh yah. Wes punya ancang ancang berarti dia iku. Jadi kapan? Dikenalno nang mas dan mbak? " Timpal Mbak. Aku hanya tersenyum malu malu mau. 
" Dungakne aja mas, mbak." kujawab
"... Om aku juga mau ketemu ate. Kapankapan diajak kesini juga yaa.. Hihi" Kali ini si kakak Octa ikut nimbrung. Hei, sejak kapan bocah bocah ini belajar soal orang dewasa. 
Obrolan kami berlanjut. Banyak hal yg kami diskusikan. Mulai dari bercerita bagaimana pertemuan Mas dan mbak, seputar pekerjaan, hingga rencana kami membuka usaha keluarga. Jarak Sidoarjo-Jember sudah membuat mereka rindu kampung halaman rupanya.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11.20, aku beranjak untuk berpamitan kepada mereka. Tentu saja setelah drama membujuk kedua bocah kebanggaan ku itu, aku bisa segera berangkat pulang. 
".. Hatihati dek. Titip salam buat mama dan papa dirumah. Segera setelah ini kita pulang ke jember."
"Ya, mas. Hatihati juga disini... Hei, jangan nakal ya, nanti om ke sini lagi sama ate." 
"... Janji ya om " si kecil Alin jadi makin sipit karna menangis tak henti henti sedari tadi. Sudah seperti bakpao yg di masak terlalu matang begitulah kirakira
" Janji jari kelingking... " Ujarku memenangkan hatinya. 
Aku bergegas, setelah berpamit. Jember jadi tujuanku berikutnya. Lalu entah mana lagi tempat yg harus ku datangi, kesempatan yg mana lagi, aku tak perduli. Dimanapun ada, kemungkinan yg mana saja, harus ku hadapi. Dan Sidoarjo akan menjadi saksi nanti, saksi keberhasilan yg harus segera kuraih....

(part 4)