Kriiiiiiingggg... "Assalamualaikum gil, apakabar? Gimana sudah dapat kerja, kah?" Suara dari seberang telpon ini tak asing bagiku, Mas Indra. Kakak tingkatku ketika aku masih kuliah, berkutat dengan banyak tugas dan kegiatan yg makin terasa tak berguna kini, dia juga merupakan kawan seperjuangan ketika kami menyelesaikan project di kota orang tepat taun lalu. Aahhh, rindunyaa.
"Waalaikumussalam, mas. Kabar baik alhamdulillah. Sampean gimana disana?. Waaah, kebetulan masih belum nih mas, ada apa? "
" Gini gil, oiya alhamdulillah kabar baik juga disini. Gini, gini ini aku masih cari team buat project baru di kalibaru nantinya rencana ku aku mau ajak gabung agil lagi. Itupun kalo agil mau, soalnya aku pernah denger dari teman kita kalo agil udah gamau lagi ambil project ini. Nah, karna aku udah tau dan pernah kerja bareng agil jadi aku coba hubungi kamu. Kebetulan juga lokasinya ga terlalu jauh kan dari jember? Jadi, gimana? "
" Oke mas, aku siap. Kapan kita berangkat? " timpalku tanpa lagi berpikir panjang. Hei, aku butuh pekerjaan sekarang. Biaya hidup makin gila, kebutuhan ini itu di rumah harus segera terpenuhi, tidak bijak sekali jika ini harus lagi kulewatkan.
" Kontrak cuma sampai desember loh, gil. Bener gapapa? " kembali mas indra meyakinkan. Aku tau betul bagaimana dia, orang baik yg terlalu baik dia enggan memberikan kepastian kepada siapapun jika hal tersebut belum benar-benar pasti.
" Wkwkwk, c'mon dude. Kita sedang membutuhkan pekerjaan sekarang, it's oukay. Toh kita kerja bareng lagi kan mas, gapapa aku ambil"
" Hahahah kamu ga berubah, selalu tepat saat aku butuh kaya gini. Oke, setelah ini kelengkapan yg harus disiapkan ku send by WA. Sampai ketemu di jakarta hari sabtu besok, brother. "
" Okay, thanks a lot bruuh." lantas telpon pun mati. Tapi tunggu, hari sabtu? Sekarang? Kamis. Oh, no terlalu mepet untuk persiapan ku. Aku hanya menertawakan kegupuhan ku. Baru saja aku menerima telpon yg tanpa sadar bahwa sebenarnya aku membuat diriku underpresure sekali lagi. Baiklah, mari kita mulai langkah ini lagi. Bismillah,
****
Siang itu sudah kusiapkan semua perlengkapan ku, lantas segera kuraih handphone, memberi kabar gembira ini kepada yg terkasih.
"Hei, dear. Sudah siang, segera makan lantas shalat... "
" Ada kabar baik, dear. Pagi tadi aku dapat telepon dari teman project dulu, alhamdulillah aku di panggil lagi buat ngisi kekosongan team kalibaru. Sabtu besok aku berangkat training di jakarta. Besok bisa kutemui? "
Lama kutunggu balasan alfin, tidak seperti biasanya dia membalasnya lama gumamku. Mungkin sedang sibuk, bengkel dalam keadaan ramai jika seperti itu. Tak apa lah, aku bisa menyibukkan diri sebentar sambil menunggu balasan dari nya,
" Le, sudah semua? " tiba-tiba mama menegurku sembari membawakan segelas kopi hangat untukku,
" Sudah ma, sudah semuanya. Tinggal lusa berangkat. "
" Hati-hati disana ya, nak. Shalat, ingat. "
Aku tak membalas lagi ucapan mama, tersenyum lebar sudah dapat memberikan beliau banyak jawaban. Ia pun tersenyum ke arahku, mengusap-usap kepala sudah jadi kebiasaan baginya tatkala aku akan pergi kemanapun. Aku senang, kendatipun seringkali kami bertengkar, kendatipun terkadang mama begitu menjengkelkan tapi aku tau dia begitu menyayangiku.
"Le, berapa hari disana? Makannya gimana? Terus nanti tidurnya dimana? Paklek Im di telpon ya nanti, biar bisa nyamperin kamu. Masker, sama semprot semprot tangannya jangan lupa... " papa pun jadi cerewet, tidak seperti biasanya pikirku.
" Handsanitizer pa, bukan semprot semprot... " jawabku setengah meledek, haha.
" Iya, itu pokoknya. Jangan lupa "
Aku tau bagaimana beliau khawatir denganku, apalagi di tengah pandemi ini aku harus bepergian, tapi mau bagaimana lagi. Sudah jadi tugasku sebagai anak laki-laki pergi, berusaha untuk dapat membantu kedua orangtuanya.
" Pah, mah. Aku cuma sampai hari jumat tgl 10 disana, setelah itu aku pulang. Lokasi kerjaku pun dekat dengan rumah, aku bisa pulang kapanpun aku mau. Jangan khawatir yaa, doakan saja setelah ini semuanya lancar. " jawabku kepada mereka berusaha menenangkan. Mereka diam, tak lagi berujar apapun. Tanda bahwa mereka mempercayaiku, aku tersenyum sembari kembali menata semua perlengkapanku selama disana nanti.
" Hei. Maaf yaa baru sempat balas, bengkel chaos dear, rame banget. Ini aja aku baru bisa diem. Ini ada apa? Ada kabar apa? " notif yg di tunggu tunggu sedari tadi. Aku sudah tak sabar menceritakan semua kabar baik hari ini kepadanya.
" Aku dapat telpon, dari mas indra. Dia butuh orang buat isi team nya. Project lagi yang, seperti taun kemarin, lusa aku berangkat training di jakarta."
"Waaah, syukur. Alhamdulillah ya dear, but wait Jakarta? Hei, pandemi ini masih belum berakhir. Harus banget berangkat ya? " yaaah begitulah, lagi lagi aku harus meyakinkan.
" Iyaa, alhamdulillah. Penempatan nya nanti dekat kok, di kalibaru. Kapanpun aku kepengen pulang, aku pulang. Disana cuma sampai tanggal 10 kok, setelah itu pulang. "
" Tapi nanti pulang kan? Ngga menetap disana kan... "
" No, dear. Aku pulang kok. Cuma sampai tgl 10 disana.. "
Lalu, percakapan itu berlanjut lama. Seperti biasa kami berkomunikasi. Sekelebat dalam benakku terlintas, betapa bersyukur nya aku saat ini banyak orang-orang baim di sekeliling ku. Tentu saja, aku sangat bersyukur dia ada di hidupku saat ini, wanita kuat yg senantiasa men-support ku. Seperti memberiku kekuatan baru disetiap harinya, hingga tak lagi terbesit untuk menyerah dalam hati ini. Terimakasih Tuhan, Terimakasih.
***
(part 5)