"... Dear, subhi. Semogamu ga redup kan? Banguno, ayo shalat. " sebuah notif whatsapp dari alfin. Aku tersenyum membaca nya, hanya ku baca tak lagi kubalas. Aku belajar mengerti dan menghargai kesibukan nya di pagi hari. Dia wanita kuat, aku harus memujinya. Bagaimana tidak, bertahun tahun sejak ia masih di bangku sekolah dan ibunya jatuh sakit, ia harus mengerjakan semua keperluan rumah sendiri. Termasuk menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga. Ya, semuanya. Aku bangga padanya.
Aku beranjak dari tempat tidur, berwudhu lalu bergegas menunaikan panggilaNYA.
"... Om, tunggu aku. Aku ikut " Tiba-tiba kedua ponakanku menarik lengan baju ketika aku mulai hamparkan sajadah. Aku tersenyum, takzim kepada mereka.
" Yasudah, buruan yuk. Kakak ajari Alin buat wudhu yaa, om tunggu" Lantas keduanya bergegas, berlari lari menuju kamar mandi dengan riangnya.
" Semoga kalian menjadi kebanggaan keluarga ya le, ndok... " aku bergumam dalam hati, dan tak terasa menetes air mata tanpa perintah jelas dariku sendiri. Subuh itu, hari itu, dimulai dengan penuh syukur. Alhamdulillah.
***
Matahari pagi kota Sidoarjo begitu terik, padahal jam baru menunjukkan pukul 08.15 tapi sungguh, hawa pengap ini membuat aku harus mandi 2kali di waktu yg tak begitu panjang jedanya. Sisa pagi hingga siang kusempatkan bercengkrama dengan kakak dan mbak juga si kakak Octa dan si kecil Alin, hari itu kakak sengaja mengosongkan jadwal service nya khusus untuk berkumpul dengan ku dan keluarganya. Obrolan ringan dan senda gurau pagi itu benar-benar membuat ku sangat bersyukur, lagi.
"... Gimana dek, awakmu mau pulang sekarang tenan ta?" Mbak menyela obrolan ku dengan kakak
"Iyo mbak, besok masih ada acara di Jember. Jadinya aku harus pulang hari ini "
"... Adek saiki punya pacar baru ma, mangkane dia serius banget nyari kerja. Ben iso datting tanpa mikir katanya. Hahahaha" Sindir kakakku tanpa beban. Sungguh, sifat konyolnya membuat aku risih kadang.
".. Waah, bagus toh yah. Wes punya ancang ancang berarti dia iku. Jadi kapan? Dikenalno nang mas dan mbak? " Timpal Mbak. Aku hanya tersenyum malu malu mau.
" Dungakne aja mas, mbak." kujawab
"... Om aku juga mau ketemu ate. Kapankapan diajak kesini juga yaa.. Hihi" Kali ini si kakak Octa ikut nimbrung. Hei, sejak kapan bocah bocah ini belajar soal orang dewasa.
Obrolan kami berlanjut. Banyak hal yg kami diskusikan. Mulai dari bercerita bagaimana pertemuan Mas dan mbak, seputar pekerjaan, hingga rencana kami membuka usaha keluarga. Jarak Sidoarjo-Jember sudah membuat mereka rindu kampung halaman rupanya.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11.20, aku beranjak untuk berpamitan kepada mereka. Tentu saja setelah drama membujuk kedua bocah kebanggaan ku itu, aku bisa segera berangkat pulang.
".. Hatihati dek. Titip salam buat mama dan papa dirumah. Segera setelah ini kita pulang ke jember."
"Ya, mas. Hatihati juga disini... Hei, jangan nakal ya, nanti om ke sini lagi sama ate."
"... Janji ya om " si kecil Alin jadi makin sipit karna menangis tak henti henti sedari tadi. Sudah seperti bakpao yg di masak terlalu matang begitulah kirakira
" Janji jari kelingking... " Ujarku memenangkan hatinya.
Aku bergegas, setelah berpamit. Jember jadi tujuanku berikutnya. Lalu entah mana lagi tempat yg harus ku datangi, kesempatan yg mana lagi, aku tak perduli. Dimanapun ada, kemungkinan yg mana saja, harus ku hadapi. Dan Sidoarjo akan menjadi saksi nanti, saksi keberhasilan yg harus segera kuraih....
(part 4)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar