Selasa, 30 Juni 2020

Hei, be stronger dude!

Sudah tidak lagi terhitung berapa banyak kertas yang ku cetak, berapa banyak kemungkinan yang sudah ku coba, berapa banyak tempat yang ku tuju. Nyaris, hampir saja menyerah dengan keadaan, sungguh situasi ini membuat dada sesak. 
Siang itu kuputuskan untuk berangkat ke Sidoarjo, tujuanku berikutnya. Aku mendapat kabar untuk mengikuti serangkaian seleksi perekrutan karyawan baru. Alhamdulillah. 
"Le, atiati kalo berangkat. Dijaga shalatnya jangan makan telat, jangan sembarangan makan" Ujar Mama sembari ia menyiapkan keperluan ku, aku tak meminta nya tapi memang sejak dulu ia tak pernah bosan memanjakan anak bungsunya ini. Segala persiapan dan kebutuhan bak obat penenang ampuh baginya, sudah menjadi kebiasaan sejak dulu. 
"Iya ma, " singkat saja ku jawab. Begitupun papa, ia hanya tersenyum takzim melihatku merapalkan banyak doa penuh harap selepas magrib di waktu itu. Sebenarnya banyak hal berlalu lalang dalam kepala ini, jalan satu satunya hanya merapal wirit saja yg kubisa. Setidaknya itu ampuh untuk menenangkan gemulak hati yg tengah kurasakan. 
"Le, hatihati dijalan. Ndak usah terlalu dipikirkan, dijalani aja dulu, toh kan ya masih tes. Ndak usah banyak berharap, rejeki Allah itu luas" Aku terpaku dengan ucapan papa, sebagai penyemangat dan pengingat untuk ku bahwa dunia tak harus dikejar setengah mati. Pengingat bahwa Allah senantiasa bersamaku dalam keadaan apapun. 
"nggeh pa, InsyaAllah." singkat saja kujawabnya. Tak banyak berkomentar. 
Entah, aku tak banyak bicara hari itu. 
***
Matahari Sidoarjo sungguh tak masuk akal, panas menyengat seperti membakar permukaan kulit. Jengkal demi jengkal langkah yg nyaris gontai kutapaki, harap harap cemas tentang hasil test yg baru saja kulalui. Aku memutuskan berhenti sejenak, sekedar beristirahat merehatkan kaki di sebuah kedai kopi. Baru saja aku duduk, sebuah notif whatsapp di handphone ku. Alfin, nama itu muncul pada notif. 
"... Gimana test nya, dear?. Mudah mudahan segera ada kabar baik yaa... " bunyinya. Aku hanya tersenyum kecut membacanya, sepertinya tak baik bila aku menutupi hasil yg sebenarnya. Lantas segera ku balas. 
" Belum rezeki yang, aku gagal di tes konversi, padahal sudah mati-matian aku berusaha, tapi malang skorku cuma terpaut 0.2 angka saja. Maaf yaa... "
"... Hei, its oukay. Gapapa yang, kamu sudah berusaha. Oh, hei satu lagi. Dunia tak perlu kau kejar matimatian, dear. Sudahlah, belum rezeki memang, tak apa. Aku tetap bangga sama usahamu." 
Aku diam, termangu dengan kata-kata nya. Sungguh aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk pekerjaan itu. Tapi tetap saja, seperti semua sia-sia. Aku kesal dengan diriku sendiri, kenapa masih saja kurang. Belum sempat aku membalas, satu lagi notif darinya 
"... Dear, tak apa. Sungguh tak apa. Jangan berpikiran bahwa aku akan meninggalkan mu hanya karna saat ini kamu joblees. It's oukay, really. Kamu hatihati disana, kapanpun kamu pulang kabari aku, jangan menghilang apalagi menghindar, sungguh aku ga suka. Jangan memperkerdilkan dirimu. Kamu kuat, kamu hebat. Yaa, janji sama aku, kita lewati semua bareng bareng. Ok?... ". 
" Yaa, yang. I promised to you... "
"... Yasudah, hatihati sekali lagi. Kerjaan ku masih banyak, nanti malam kalo sempat telepon aku. Lafyu, dear..." 
"Iyaa. Lafyutu... "
Tak lagi ada balasan setelah itu. Mungkin dia tengah sibuk dengan banyak kertas dan laporan di tempat dia bekerja. Alfin, wanita yg menemukan ku tatkala aku terpuruk, yeah hingga saat inipun aku masih terpuruk. Ia dengan sabar menghadapi segala keluhku, telaten mendengar semua ocehan ku. Ia hadir ketika aku ditinggalkan begitu saja oleh wanita yg sempat aku banggakan dulu. Ah, sudahlah itu semua masa lalu yg buruk. 
Aku masih terdiam, sebdiri. Sebatang kretek yg aku sulut masih tak kuhisap, hingga kopi hitam pesanan ku pun beranjak dingin. Aku masih termangu sendiri memikirkan keadaan diri yg masih saja tak berguna. 
Jam di tangan menunjukkan tepat pukul 16.35, tak terasa aku sudah lama duduk sendiri. Kulangkahkan kaki pulang, kupaksa otakku berdamai dengan hati. Demi senyum dua keponakanku yg sudah menunggu kepulangan paman nya. Sebelumnya memang sudah kukabari kakak ku dan meminta izinnya untuk aku menginap semalam saja. Tentu saja kedua bocah itu girang tak terbendung lagi 
"... Asiiikk, o'om dateeng" kudengar si kecil alin dari sebrang telpon sana. 
"Yaudah dek, buruan pulang udah sore. Mas tak nganter bocil bocil ini ngaji... " kali ini kakak mulai meluruskan tanpa memperdulikan kedua bocah itu. 
".... Yaaaaahhh, libur dulu lah yaah. O'om dateng lo." Keluh si octa, 
"Nanti abis ngaji, main sepuasnya sama o'om. Ayo cepet... " Kakaku mulai membujuk mereka. 
" yauda dek cepet pulang, hatihati... " sambungnya.
Aku mengiyakan perkataan kakak, kututup telpon lalu bergegas menuju rumahnya. Hari itu ku tutup hari dengan perasaan berkecamuk, namun sedikit terobati ketika ocehan kedua ponakan ku di telpon tadi. Tak apa, setidaknya ada sedikit obat untuk diri ini. Bahkan mungkin, Tuhan pun tengah menghiburku dengan mendatangkan Jingga senja sore itu. Haaah, sungguh lelah rasanya. 

(part 3)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar