Tak peduli lelah langkah, tak perduli bagaimana peliknya keadaan aku tak akan menyerah.
Teriknya panas mulai menyengat kulit, tak kunjung ada satu tempat untuk aku diterima bekerja. Nyaris putus asa, kusempatkan singgah di rumah Allah barangkali setelahnya hati ini sedikit sejuk terasa. Ku tanggalkan sepatu, ku letak kan ranselku di ujung masjid lalu melangkah untuk bersuci, kemudian membulatkan hati menghadap-Nya. Ruku' demi ruku', sujud demi sujud, ku berserah, pasrah sudah. Tak terasa tetes air mata mulai menggenang, basah mata di buatnya. Perasaan bersalah kepada semua orang yang menyayangi, rasa berdosa sebab telah banyak larangan yg tak ku indahkan menghunus perih rongga dada, seakan menghujam keras kepala. Aku bersimpuh, menghadap-Nya kembali..
Usai sudah, dzuhur telah berhasil ku taklukkan. Lega rasanya.
Di pelataran, aku melihat sosok. Seorang pria renta tengah menyapu halaman,
"Permisi kek, saya numpang istirahat sekalian makan siang nggeh, " sapaku tanpa pikir panjang.
" Ya, nak. Silahkan. Ada air minum di ujung pintu, silahkan kalau mau minum.. " suaranya sungguh meneduhkan. Aku tak menjawab, hanya memandang penuh takzim kepada beliau. Tanpa sadar bahwa nyatanya ia berbicara tanpa memandang ku, pandangan nya berlawanan dengan arahku menghadap. Aku masih tertegun ketika ia mulai berbicara lagi, sambil tersenyum ia lalu berkata "... Saya buta nak, tidak bisa melihat. Bisa minta tolong tuntun saya ke arahmu? Saya mau duduk disebelahmu. Apa boleh?"
Segera aku bangkit, menuntun beliau
"Eh, iya kek. Pelan pelan kek... " kami berdua saat itu, berbincang ringan hingga menjelang adzan ashar dikumandangkan. Banyak hal dalam perbincangan kami, soal hidup, bahkan cinta. Satu hal yg sangat ku ingat dari semua perbincangan itu adalah kata-kata nya yg begitu menenangkan untuk ku
"Nak, dalam hidup memanglah seperti ini. Bukan karna Tuhan tak adil, bukan karna Tuhan tak lagi menyayangi mu, lebih lebih bukan karna Tuhan menghukum mu. Haram untuk kita berprasangka buruk terhadap Tuhan... "
Hening sejenak, lamat lamat ku cermati setiap katanya,
"... Tuhan sedang mempersiapkan sesuatu yg besar untukmu, percayalah. Ia tak pernah tidur, Ia tau sebesar apa dirimu berusaha dan untuk apa usahamu itu. Maka, tetaplah bersabar sembari berdoa, tetaplah ikhtiar di iringi tawakal. Semoga segera tuntas, apa apa yg menjadi beban pikiranmu saat ini, nak "
Aku terdiam, terkesima dengan semua perkataan nya. Bahkan, dengan segala kekurangan dan keterbatasan nya ia masih mampu berpikir positif. Sedangkan aku, yg masih Tuhan beri nikmat sehat lahir batin masih saja mengeluh, setiap hari tiada bosan mengeluh. Iillahi Rabbi, ampuni aku.
"... Sudah waktunya ashar nak, ayo kita shalat bersama.. "
" eh, iya kek... Mari, kakek di depan. "
Beliau hanya tersenyum, lalu meminta ku menuntun nya melangkah. Benar benar damai, sore ini... Terimakasih, Allah.
(part 2)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar