Selasa, 25 Agustus 2020
Hei, be stronger dude
Rabu, 19 Agustus 2020
Hei, be stronger dude
***
Siang itu mendung. Padahal jam dinding masih menunjukkan pukul 12.17, aku mulai gelisah khawatir hujan membuat perjalananku pulang terhambat, ah dasar aku.
"Jember hujan, dear... Jas hujanmu ga ketinggalan kan. Hati-hati, segera pulang. Misyu" sebuah notif dari alfin. Aku tak sempat membaca sebab berkutat dengan tumpukan kertas yang makin hari makin tebal saja, tak kunjung akhir. Jam berdentang menunjukkan tepat pukul 14.00. Sial. Lama sekali waktu ini berputar, gerutuku dalam hati. Kriiiiiiiiiiingggg, handphone ku berdering lantas segera kuraih.
" Dear, gausa ngebut. Aku tau kamu kepengen segera bertemu, tapi hati-hati. Gausa ngebut ngebut. Aku tetep nunggu kok... " suara dari sebrang telpon ini sangat aku rindukan, sosok yang selalu berhasil mencuri semua perhatian dariku, yang selalu menjadi sumber energi kedua setelah mama. Tak tega rasanya membuat dia khawatir seperti itu. Aku tak bicara banyak, hanya meng-iyakan setiap kekhawatiran dia. Lantas mengakhiri obrolan singkat itu. Jam dinding menunjukkan tepat pukul 15.00, berakhir sudah urusan hari ini. Sempat beberapa teman mengajak untuk sekedar ngopi di kedai langganan, sekedar melepas lelah sehabis bekerja. Namun dengan segala hormat kutolak baik-baik, sebab aku tak bisa lagi menunda kepulanganku hari ini. Sepertinya mereka pun memahami maksudku, lantas membiarkan aku bergegas pulang. Tanpa hujan, tanpa mendung siang itu. Cerah terik matahari, langit tersenyum padaku. Siang itu.
***
Tepat satu setengah jam perjalanan. Kutepikan motor untuk sejenak menunaikan shalat ashar. Usai tunai asharku, lantas kupacu motor segera menuju tempat kami bertemu sore ini. Tak sabar segera bertemu, kupacu sedikit lebih cepat menyusuri jalanan kota. Tunggu, tunggu aku. Sial sekali lagi, aku tak bisa tepat waktu untuk tiba sebab jalanan kota yg padat, macet dimana mana menguji kesabaran banyak orang yang tengah berburu waktu sama sepertiku. Mungkin memang bersamaan dengan jam pulang kantor, setengah emosiku terkuras dengan kemacetan ini. Setelah cukup lama aku berkutat dengan kemacetan jalanan kota sore itu, tiba juga aku di rest area jubung tempat dimana kami berjanji untuk bertemu.
" Maaf aku lama yaa, jalanan macet. Pada ngawur ngawur semuanya dijalan. Kesel, gatau orang buruburu banget... " keluhku.
" Hei, sudah tak apa. Yang penting kan selamat "
" Jadi kenalkan, ini wulan, enggar, mas pras.. Mereka temen-temen yg sering aku ceritakan, Mas.. " sambil tersenyum ia mengenalkan aku dengan beberapa teman teman yg juga dia ajak untuk berkumpul. Memang sebelumnya dia bilang ngajakin teman temannya yg lain. Tapi tetap saja, aku kikuk di awal pertemuan dengan orang-orang baru, selalu begitu.
" Agil, saya agil... " lantas aku memperkenalkan diri meskipun kaku.
"Hei mas , enggar ... "
" Wulan mas..."
"Pras, Mas Pras ... hehehehe"
Lantas mereka memperkenalkan diri satu per-satu. Obrolan kami terasa menyenangkan sore itu, tak jarang tawa kami meledak sebab hal-hal konyol yang mereka bincangkan. Aku hanya senyam-senyum mendengarkan mereka, sesekali nyelentuk , kebanyakan diam. Tak apa , situasi seperti ini yg aku perlukan saat ini. Tertawa lepas sejenak melepas penat, meskipun dalam kepala banyak hal yang berlalu lalang memikirkan banyak hal.
"Hei, jangan melamun. Apasih yang dipikirkan?" tangan mungil itu menggapai lenganku, aku terkejut.
"Eh, ngga kok. aku ga ngelamun... hehe "
"Jangan bohong, aku tau kamu. Kalo sudah begini, tentu ada hal yg kamu pikirkan kan ?
Tak apa , Mas. semua baik-baik saja. Yaaa?"
Aku tak menanggapinya dengan kata, tersenyum sudah jadi cara terampuh bagiku memenangkan kemelut dalam hati. Pun demikian, ia juga selalu mengerti bahwa senyuman selalu memberinya jawaban atas segala risau kami. Begitulah ia, selalu berhasil meruntuhkan semua keraguanku tak hanya atas diriku sendiri bahkan segala hal yang terlalu banyak kupikirkan. Sore itu jingga kembali ke peraduannya berganti rembulan malam yang meskipun tak terlalu terang, tapi cahayanya menenangkan kepada siapapun , setiap insan. Lantas kami semua memutuskan untuk pulang, berpamitan satu sama lain
"Boleh nih kapan-kapan kita maen bareng," celetuk si Enggar
"Oh, jelas. Boleh banget. gimana mas ?" timpal si Pras. Sial, baru juga kenal kenapa mereka sepercaya ini mengajakku bergabung. Sungguh, aku tak se-asik itu menjadi teman bincang.
"Eeee, iya boleh. Tinggal pas-in liburnya aja kalo barengan.." astaga mulut ini berucap semaunya tanpa perintah jelas dari otakku.
"Oke, fix. Biar si Alfin yg atur soal si Mas-nya. Kita pastiin aja ntar tanggalnya" timpal si Wulan
Lantas mereka serempak menjawab "setuju" nyaris bersamaan. Yaaa, tak apalah sesekali aku harus sering sering keluar, pikirku.
Setelah semua setuju dan sempat berdiskusi dengan Alfin perihal ijin ke Ibu nanti, kami bergegas untuk pulang. Sebab petang sudah tak lagi bisa ditawar.
Cahaya lampu menerangi jalanan Kabupaten yang kami lalui, ramai dan macet arus lalu lintas sudah acuh kuhiraukan. Rindu ini terobati hari ini. Dan pulang menjadi tujuan kami, tentu saja pulang bersama dalam satu rumah tengah kami upayakan, sekeras hati.
****
(part 8)
Sepucuk Surat Untukmu
Al,
apakabar kamu saat ini ?
Apakabar
kamu wanita yang sangat gigih kuperjuangkan ?
Apakabar
hati yang selalu kurindui ?
Semua
baik-baik saja bukan?
Kuharap
kamu tetap kuat hingga waktu yang kita nanti-nantikan itu menjelang.
Al
, kau tau ? Tentu kamu tau, bukan ?
Saat
ini aku tengah berupaya, menerpa badai yang senantiasa menghadang langkah kaki
Menapaki
setapak demi setapak jalan yang kita tau sangatlah terjal.
Tak
apa, Al
Jangan
berhenti. Jangan berhenti saat ini ,
Duduklah
tenang, rapalkan saja semua doa-doa terbaikmu untuk kita.
Itu
saja yang kupinta.
Biarkan
aku yang nanti menjemputmu, kuharap kamu sabar menunggu.
Al,
aku tak pernah sehebat ini berjuang
Tak
pernah sesenang ini mengatasi segala sulitku
Sebab
aku tau, hanya kamu sempurnaku
Sebab
keyakinanku tak pernah pupus, alih-alih pudar.
Keyakinan
bahwa hanya kamulah tulang rusuk yang hilang
Keyakinan
sebab kamu teman terbaik dalam perjalananku berlayar
Bahtera
ku sempurna atas hadirmu, nanti.
Semoga
yang senantiasa ku Aamiin-kan sepenuh hati, segenap jiwaku
Tak
kah kaupun demikian, Al ?
Al,
maka biarkan aku segera berlabuh
Menancapkan
jangkarku kuat-kuat
Hingga
kerasnya ombak menerjang pun tak akan goyah,
Bahkan
badai menyerah.
Tetaplah langitkan semua harapmu, semuanya
Tanpa sisa.
Jangan kemana-mana ya , disini saja .
dariku, untukmu
Kamis, 13 Agustus 2020
Hei, be stronger dude
Bulan pertama aku di tempat baru. Banyak hal baru yang aku hadapi disini. Orang orang baru, lingkungan baru, suasana baru. Syukur tiada henti kupanjatkan pada-NYa,
"...hari ini bosan ya " si Erwin tiba-tiba nyelentuk
" masa gaada kerjaan sama sekali. Gabut. Hari-hari membosankan... " terus saja dia mengomel sendiri. Tidak lagi aku hiraukan, kupasang earphone, now played ~ pergi, hilang, lupakan salah satu list lagu favorit yang ada di mediaplayerku. Hei, sepertinya tepat kudengarkan ketika kawanku satu ini sedang mengoceh hal-hal yang ga penting seperti ini.
"... Wwwoooee. Dengerin kek orang ngomong ". Aku terkekeh mendengar protes si Erwin. " iya win, ada apa? "
" Ga jadi! " Jawabnya ketus.
Aku hanya senyam senyum merespon nya, sudahlah biarkan dia. Mungkin sedang jenuh dengan pekerjaan kami yang memang terkesan monoton ini.
***
Tengah hari. Terik matahari seperti tak menembus permukaan bumi Kalibaru, dingin nya hawa masih saja tetap terasa. Karena memang daerah pegunungan, jadi wajar saja. Ku gulir layar handphone, whatsapp jadi aplikasi pertama yang selalu ku buka ketika jam makan siang tiba.
"Hei, dear. Sudah siang. Sudah shalat? Makan, jangan telat " pesan singkat itu segera melayang, sampai pada notifnya. Menjadi kebiasaan bagiku untuk tetap berkabar. Meski jarak kita tak terlalu jauh, namun tetap menjaga komunikasi adalah hal yang wajib untuk tetap menjaga komitmen kami. Menyempatkan berkabar ditengah kesibukan.
"... Hmmm, makan terooos. Ntar aku gendut kamu gamau loooh yang. " hanya beberapa menit dia membalas. Aku tertawa membaca isi balasan itu. Lantas kami terus saling berbalas pesan, seperti biasa.
" Kapan pulang. Sudah rindu.. "
"... Lusa aku pulang. Esok harinya kita jalan. Mau?"
"Tentu saja mau, pertanyaanmu aneh. Tapi, gimana ijin dengan ibu, yang? "
Sejenak aku tersenyum membaca nya, membayangkan rona wajahnya yang selalu merah muda tatkala ia cemberut, tersenyum, bingung, bahkan gelisah. Yaa, memang hubungan kami belum juga diketahui oleh keluarga kami masing-masing. Ada banyak pertimbangan kami untuk saling mengenalkan, sebab bahasa "pacar" memang sedikit meragukan untuk keseriusan bagi keluarga kami masing-masing. Jadi, kami berkomitmen jika nanti telah siap satu sama lain dan keadaan memungkinkan, kami akan maju bersama. Menghadap dan meminta izin untuk ke jenjang selanjutnya.
"Gapapa, nanti biar aku yg ijinin ke ibu ya. Pagi berangkat, sore kita sudah dirumah." lantas kujawab seperti itu.
"... Eeemmm, yasuda kalo gitu. Aku percayakan kamu aja kalo gitu. Segera shalat, ini sudah lewat jam makan siang. Jaga diri baik baik disana, jaga hatimu juga ❤️"
"Kalo gitu kita setuju, yaa. Baik kalo gitu,
sayang juga. Baikbaik disana yaa. Misyuu. "
"... Missyutu"
Singkat, namun cukup mengobati rindu ini. Kami tau semua tak akan mudah, terlebih perihal restu orang tua jelas saja itu tak akan mudah. Terkadang bosan itu ada, tapi kami selalu berusaha untuk tak saling pergi. Menguatkan satu sama lain, mempercayai hati yang masing-masing kami jaga untuk satu nama. Semoga itu yang senantiasa kami langitkan ke haribaan-Nya Yang Esa.
Langit siang itu mendung, seakan ikut merayakan kerinduan kami.
Segera aku bangkit, kembali ke dalam ruangan. Berjibaku dengan tumpukan kertas laporan yg tak kunjung menipis. Begitupun dengannya. Siang itu kami tutup dengan kembali menyibukkan diri, seraya berharap waktu cepat berputar untuk hari esok.
****
(part 7)