Selasa, 25 Agustus 2020

Hei, be stronger dude

***
Minggu pagi. Waktu yang kami sepakati untuk hangout bareng, jadilah aku bersiap sejak pagi untuk menjemput Alfin di rumahnya. Kira-kira setengah jam perjalanan dari rumah menuju rumahnya, meskipun ini bukan kali pertama aku berkunjung ataupun menjemputnya tapi tetap saja aku berdebar. Tibalah aku akhirnya, kuparkir motor lantas melangkah menuju teras rumahnya seraya mengucap salam, 
"Assalamualaikum, " kebetulan sekali ibu yang menyambutku datang 
" Waalaikumsalam, oh kamu le? " sahut ibu dari dalam rumah. Lantas bergegas aku salim, 
" Al, ada bu? " 
" Ada, iku lagi siap-siap nang jero le. Samean arepe nangdi? (kamu mau kemana?) " 
" Engg, nganu bu... Mau keluar. Bareng Wulan juga kok bu, " menjawab pertanyaan ibu aku jadi sedikit gupuh, alihalih memberi jawaban malah terkesan beralasan. 
" Healah, arepe dolan toh? (healah, mau main toh?) “ kata ibu setengah menggoda. 
" Yuk Mas,  dah siap aku. Buk, aku berangkat yaa sama Mas. " belum juga reda ibu nggojlok jawabanku tadi, Alfin keluar seraya salim. Aku diam sebentar. Cantik. Dalam hati aku bergumam sendiri, mematung 3detik sebab kagum terhadapnya. 
" Hmm, anak wedok ku wis prawan. Yowis atiati lo le. Ojo malem malem lek muleh." (hmm, anak perempuanku sudah gadis. Yasudah, hatihati ya le. Jangan malam malam kalau pulang). 
" Eeh, iya bu. Saya pamit... Assalamualaikum, bu" masi dalam lamunanku aku tergopoh gopoh pamit pada ibu. Lantas kami berangkat. Alfin hanya senyum meledek laku ku di hadapan ibu tadi. 
"Kenapa kamu senyam senyum aja daritadi? " kataku. Mataku masih awas memperhatikan lurus ke depan, 
" Hahaha gapapa, dear. Lucu aja ngeliat kamu bicara sama ibu. Sepertinya kamu pernah cerita deh, kalo waktu masih kuliah kemarin kamu sempat masuk di divisi pengkaderan, " dia masih tergelak sambil bercerita, 
" Yaa, memangnya apa hubungannya yang? Gaada hubungannya deh "
" Yaa ada dong. Kamu kalo ngader kan galak sama juniormu, nah ini kamu kaya harimau hilang taringnya di depan ibu.. Hahahaha" Lagi lagi dia meledek, 
"Hahaha yauda sih yang, masa iya aku mau ikutan galak ke ibu. Bisa-bisa ga di kasih ijin lagi dong kita. Ada-ada aja sih... " 
Dia tertawa mendengar jawabanku. Sepanjang jalan kami bercerita, banyak hal. Tanpa terasa waktu berputar cepat. 
Sampailah kami di tempat kami berjanji untuk bertemu semua. Nampak si Wulan dan Mas Pras sudah melambaikan tangannya, sepertinya mereka sudah lama menunggu kami. 
"Heeeei, maafkan kami lama yaa? Udah daritadi?" Alfin memulai percakapan, 
"Haduuuh emang yaa kalo pasangan lagi kasmaran tu di lama lamain dijalannya, menikmati jalanan kota, gapeduli macet panas, badaipun cuma kaya remahan biskuit terbang gitu aja. " Wulan mulai nyerocos bak kereta api kehilangan kendali remnya. Aku tertawa mendengar mereka berdua berdebat, saling ledek dan diakhiri dengan tertawa. Senang sekali rasanya mendengar. 
" Sorry ya Wulan, Mas Pras jadi nungguin lama... " kataku 
" Santai aja kali mas, udah biasa aku dengerin mereka berdua seperti ini. Wkwk. 
Jadi, gimana Jember minggu minggu gini mana padet dengan Banyuwangi sana... " sahut Mas Pras berusaha lebih akrab. Akupun menanggapi dengan banyak cerita, mulai dari pengalaman dijalanan kota Banyuwangi, kultur khas budaya, percakapan orang orang di warung kopi dan banyak lagi. Obrolan kami mengalir, enjoy walau tanpa kretek sehari itu. Maklum, sebagai laki-laki kami tetap menjaga wanita kami. Sebab mereka tak bisa terkena asap rokok sedikitpun. 
"Yaa, gini nih. Laki ketemu laki, udah. Obrolannya panjaaaaang banget. Ngahahaha" ditengah obrolanku dengan Mas Pras, Alfin nyelentuk. 
Kami berempat lantas melanjutkan obrolan siang itu. Menikmati beberapa minuman dan makanan ringan yang sudah kami pesan sebelumnya, sesekali membahas tentang rencana rencana satu sama lain. Siang itu menyenangkan. 
" Jadi, gimana kalian kedepannya? Sudah ada rencana? " nyaris tersedak kopi hangat aku mendengar celentukan si Wulan. 
" Iya nih, kapan? Jangan kelamaan, " Mas Pras menambahi
Kami berdua saling tatap sebentar, 
" Doakan saja, yaa.. " nyaris serentak menjawab bersamaan, tanpa aba-aba. Saling tatap lagi, lantas tertawa terpingkal bersama. Wulan dan Mas Pras hanya geleng geleng melihat tingkah kami kali ini, 
" Ternyata memang sama aja ya, lan. Semoga mereka jodoh yaa " Kata Mas Pras terhadap Wulan 
" Iya mas, mudah mudahan deh " 
Siang itu terasa cepat sekali berlalu, tak terasa sinar Jingga Ashar perlahan mulai menampakkan diri. Pertanda sore segera tiba, aku dan Alfin pamit lebih dulu. Tak banyak bertanya, apalagi nggojlok kami berdua, mereka meyilakan. Sepertinya mereka paham betul bagaimana keadaan Alfin. Yaa, wanitaku ini tak bisa kubawa seenak jidat. Dia begitu disayangi seluruh anggota keluarga, jadi tiap kali kami ingin hangout harus melalui beberapa ijin dulu dari ibu, mas dan bapak. 
"Dear, tak apa kan kita pulang lebih awal seperti ini? " 
"... Gapapa yang, memangnya kenapa?" 
"Ya ngga, kita jarang ketemu. Sekalinya ketemu ga lama, mana harus ijin dulu dan lain lainnya... " 
Aku selalu gemas melihat wajahnya yang cemberut, selalu suka melihat rona wajahnya yang memerah tatkala menghadapi situasi seperti ini. 
"... Hei, gapapa sayang. Nanti, kalau sudah serumah kan jadi sering ketemu. Sabar, ya, lagian juga kan tandanya mereka peduli sama kamu, jadi gapapa kok "
" Tapi, kan.... "
"... Hm? Kenapa? Masih kangen?" 
"Iyaaa, huu "
"... Yauda, dilama-lamain yuk jalannya" 
"Hei, hahaha, selalu saja kamu punya cara. Yauda, hayuk kita jalan "
Lagi-lagi, aku tersenyum melihat tingkahnya. Lucu, tapi tetap anggun dimataku. Kupacu motor kesayangan ku sedikit lebih lambat dari biasanya, menikmati mentari sore, berdua. Bercerita tentang apapun, kami menikmati semua. 
"... Yang, sudah cukup yuk. Kita berhenti aja, udah capek " kucoba memulai percakapan 
" Ngomong apasih? Jangan ngelantur gitu ah ngomongnya, "
"... Iya berhenti. Udah capek nyari, sekarang udah ada kamu. Udah capek jalan sendiri, sekarang ada kamu. Kita sama sama ya," 
"Hih, paling bisa dah. Gombal teros "
"... Serius, yang." 
"Yauda kita jalan bareng bareng, dear. Ini kan udah sama sama. Banyak berdoa aja, "
Yaa, benar kita sekarang kita telah bersama. Semoga kami tak pernah pupus. 
Semoga kami tak pernah pudar. 
Senja, kemacetan kota, jalan kabupaten, jadi teman perjalanan kami sore itu. 
Satu jam kami berkendara, setibanya di rumah Alfin aku segera pamit sebab sore telah menjelang. Ibu mengantarku sampai depan pintu, sepertinya tak ada masalah sebab kami sedikit terlambat tiba. Lantas aku pun pulang. Sepanjang jalan pulang rekah semyumku tak henti, masih teringat rona merah jambu di senyumnya. Masih terngiang gelak tawanya, sungguh rindu ini selalu ada. 
Sesampainya di rumah, aku disambut mama di pelataran rumah. Sepertinya memang menungguku pulang, 
"Dari mana le? Senyam senyum ae tak liatin "
"... Hehe abis dari jember ma, jalan." 
"Hmmm, ngerti banget mama anak e mama satu ini pasti lagi kasmaran. Anak mana? Siapa? Kok mama gatau? " terus didesaknya aku
"... Apatoh ma ini, hahhaa. Dah, ah aku mau mandi. Belum shalat, lafyu mam." 
"Hei, gasopan. Diajak ngobrol orangtua mesti koyok ngunu. "
Aku terkekeh mendengar mama terus berceloteh, mengejarku menuntut jawaban. Aku melangkah ke kamar mandi, bau matahari dan jalan membuat badanku campur aduk baunya. Kok Alfin ga bau ya, pikirku. Haha
" Anak e awadewe wis joko ya, ma.. " kata papa
" Iyo e pa, maringene wis wayahe. Mugo diparingi lancar kabeh lah wis, ojo dipenging penging." (iya pa, sebentar lagi sudah tiba waktunya. Semoga diberi kelancaran lah ya. Jangan di larang larang) 
"yoiyo ma, aamiin "
Aku sempat menguping pembicaraan mereka sebentar, tertawa geli mendengarnya. Lantas tak ku hiraukan lagi apa saja yg jadi pembicaraan mereka. Aku bergegas mandi, dan segera menunaikan tugasku sebagai muslim. Lantas ku lemparkan tubuhku diatas kasur, merebahkan badan. 
***
(part 9)

Rabu, 19 Agustus 2020

Hei, be stronger dude

***
Siang itu mendung. Padahal jam dinding masih menunjukkan pukul 12.17, aku mulai gelisah khawatir hujan membuat perjalananku pulang terhambat, ah dasar aku.
"Jember hujan, dear... Jas hujanmu ga ketinggalan kan. Hati-hati, segera pulang. Misyu" sebuah notif dari alfin. Aku tak sempat membaca sebab berkutat dengan tumpukan kertas yang makin hari makin tebal saja, tak kunjung akhir. Jam berdentang menunjukkan tepat pukul 14.00. Sial. Lama sekali waktu ini berputar, gerutuku dalam hati. Kriiiiiiiiiiingggg, handphone ku berdering lantas segera kuraih.
" Dear, gausa ngebut. Aku tau kamu kepengen segera bertemu, tapi hati-hati. Gausa ngebut ngebut. Aku tetep nunggu kok... " suara dari sebrang telpon ini sangat aku rindukan, sosok yang selalu berhasil mencuri semua perhatian dariku, yang selalu menjadi sumber energi kedua setelah mama. Tak tega rasanya membuat dia khawatir seperti itu. Aku tak bicara banyak, hanya meng-iyakan setiap kekhawatiran dia. Lantas mengakhiri obrolan singkat itu. Jam dinding menunjukkan tepat pukul 15.00, berakhir sudah urusan hari ini. Sempat beberapa teman mengajak untuk sekedar ngopi di kedai langganan, sekedar melepas lelah sehabis bekerja. Namun dengan segala hormat kutolak baik-baik, sebab aku tak bisa lagi menunda kepulanganku hari ini. Sepertinya mereka pun memahami maksudku, lantas membiarkan aku bergegas pulang. Tanpa hujan, tanpa mendung siang itu. Cerah terik matahari, langit tersenyum padaku. Siang itu.
***
Tepat satu setengah jam perjalanan. Kutepikan motor untuk sejenak menunaikan shalat ashar. Usai tunai asharku, lantas kupacu motor segera menuju tempat kami bertemu sore ini. Tak sabar segera bertemu, kupacu sedikit lebih cepat menyusuri jalanan kota. Tunggu, tunggu aku. Sial sekali lagi, aku tak bisa tepat waktu untuk tiba sebab jalanan kota yg padat, macet dimana mana menguji kesabaran banyak orang yang tengah berburu waktu sama sepertiku. Mungkin memang bersamaan dengan jam pulang kantor, setengah emosiku terkuras dengan kemacetan ini. Setelah cukup lama aku berkutat dengan kemacetan jalanan kota sore itu, tiba juga aku di rest area jubung tempat dimana kami berjanji untuk bertemu.

" Maaf aku lama yaa, jalanan macet. Pada ngawur ngawur semuanya dijalan. Kesel, gatau orang buruburu banget... " keluhku. 

" Hei, sudah tak apa. Yang penting kan selamat " 

" Jadi kenalkan, ini wulan, enggar, mas pras.. Mereka temen-temen yg sering aku ceritakan, Mas.. " sambil tersenyum ia mengenalkan aku dengan beberapa teman teman yg juga dia ajak untuk berkumpul. Memang sebelumnya dia bilang ngajakin teman temannya yg lain. Tapi tetap saja, aku kikuk di awal pertemuan dengan orang-orang baru, selalu begitu. 

" Agil, saya agil... " lantas aku memperkenalkan diri meskipun kaku. 

"Hei mas , enggar ... " 

" Wulan mas..."

"Pras, Mas Pras ... hehehehe" 

Lantas mereka memperkenalkan diri satu per-satu. Obrolan kami terasa menyenangkan sore itu, tak jarang tawa kami meledak sebab hal-hal konyol yang mereka bincangkan. Aku hanya senyam-senyum mendengarkan mereka, sesekali nyelentuk , kebanyakan diam. Tak apa , situasi seperti ini yg aku perlukan saat ini. Tertawa lepas sejenak melepas penat, meskipun dalam kepala banyak hal yang berlalu lalang memikirkan banyak hal.

"Hei, jangan melamun. Apasih yang dipikirkan?" tangan mungil itu menggapai lenganku, aku terkejut. 

"Eh, ngga kok. aku ga ngelamun... hehe " 

"Jangan bohong, aku tau kamu. Kalo sudah begini, tentu ada hal yg kamu pikirkan kan ?

Tak apa , Mas. semua baik-baik saja. Yaaa?" 

Aku tak menanggapinya dengan kata, tersenyum sudah jadi cara terampuh bagiku memenangkan  kemelut dalam hati. Pun demikian, ia juga selalu mengerti bahwa senyuman selalu memberinya jawaban atas segala risau kami. Begitulah ia, selalu berhasil meruntuhkan semua keraguanku tak hanya atas diriku sendiri bahkan segala hal yang terlalu banyak kupikirkan. Sore itu jingga kembali ke peraduannya berganti rembulan malam yang meskipun tak terlalu terang, tapi cahayanya menenangkan kepada siapapun , setiap insan. Lantas kami semua memutuskan untuk pulang, berpamitan satu sama lain

"Boleh nih kapan-kapan kita maen bareng," celetuk si Enggar

"Oh, jelas. Boleh banget. gimana mas ?" timpal si Pras. Sial, baru juga kenal kenapa mereka sepercaya ini mengajakku bergabung. Sungguh, aku tak se-asik itu menjadi teman bincang.

"Eeee, iya boleh. Tinggal pas-in liburnya aja kalo barengan.." astaga mulut ini berucap semaunya tanpa perintah jelas dari otakku.

"Oke, fix. Biar si Alfin yg atur soal si Mas-nya. Kita pastiin aja ntar tanggalnya"  timpal si Wulan

Lantas mereka serempak menjawab "setuju" nyaris bersamaan. Yaaa, tak apalah sesekali aku harus sering sering keluar, pikirku.

Setelah semua setuju dan sempat berdiskusi dengan Alfin perihal ijin ke Ibu nanti, kami bergegas untuk pulang. Sebab petang sudah tak lagi bisa ditawar.

Cahaya lampu menerangi jalanan Kabupaten yang kami lalui, ramai dan macet arus lalu lintas sudah acuh kuhiraukan. Rindu ini terobati hari ini. Dan pulang menjadi tujuan kami, tentu saja pulang bersama dalam satu rumah tengah kami upayakan, sekeras hati.

****

(part 8)

Sepucuk Surat Untukmu

 

Al, apakabar kamu saat ini ?

Apakabar kamu wanita yang sangat gigih kuperjuangkan ?

Apakabar hati yang selalu kurindui ?

Semua baik-baik saja bukan?

Kuharap kamu tetap kuat hingga waktu yang kita nanti-nantikan itu menjelang.

 

Al , kau tau ? Tentu kamu tau, bukan ?

Saat ini aku tengah berupaya, menerpa badai yang senantiasa menghadang langkah kaki

Menapaki setapak demi setapak jalan yang kita tau sangatlah terjal.

Tak apa, Al

Jangan berhenti. Jangan berhenti saat ini ,

Duduklah tenang, rapalkan saja semua doa-doa terbaikmu untuk kita.

Itu saja yang kupinta.

Biarkan aku yang nanti menjemputmu, kuharap kamu sabar menunggu.

 

Al, aku tak pernah sehebat ini berjuang

Tak pernah sesenang ini mengatasi segala sulitku

Sebab aku tau, hanya kamu sempurnaku

Sebab keyakinanku tak pernah pupus, alih-alih pudar.

Keyakinan bahwa hanya kamulah tulang rusuk yang hilang

Keyakinan sebab kamu teman terbaik dalam perjalananku berlayar

Bahtera ku sempurna atas hadirmu, nanti.

Semoga yang senantiasa ku Aamiin-kan sepenuh hati, segenap jiwaku

Tak kah kaupun demikian, Al ?

 

Al, maka biarkan aku segera berlabuh

Menancapkan jangkarku kuat-kuat

Hingga kerasnya ombak menerjang pun tak akan goyah,

Bahkan badai menyerah.

Tetaplah langitkan semua harapmu, semuanya 

Tanpa sisa.

Jangan kemana-mana ya , disini saja . 


dariku, untukmu 

 

 

Kamis, 13 Agustus 2020

Hei, be stronger dude

Bulan pertama aku di tempat baru. Banyak hal baru yang aku hadapi disini. Orang orang baru, lingkungan baru, suasana baru. Syukur tiada henti kupanjatkan pada-NYa,
"...hari ini bosan ya " si Erwin tiba-tiba nyelentuk
" masa gaada kerjaan sama sekali. Gabut. Hari-hari membosankan... " terus saja dia mengomel sendiri. Tidak lagi aku hiraukan, kupasang earphone, now played ~ pergi, hilang, lupakan salah satu list lagu favorit yang ada di mediaplayerku. Hei, sepertinya tepat kudengarkan ketika kawanku satu ini sedang mengoceh hal-hal yang ga penting seperti ini.
"... Wwwoooee. Dengerin kek orang ngomong ". Aku terkekeh mendengar protes si Erwin. " iya win, ada apa? "
" Ga jadi! " Jawabnya ketus.
Aku hanya senyam senyum merespon nya, sudahlah biarkan dia. Mungkin sedang jenuh dengan pekerjaan kami yang memang terkesan monoton ini.
***
Tengah hari. Terik matahari seperti tak menembus permukaan bumi Kalibaru, dingin nya hawa masih saja tetap terasa. Karena memang daerah pegunungan, jadi wajar saja. Ku gulir layar handphone, whatsapp jadi aplikasi pertama yang selalu ku buka ketika jam makan siang tiba.
"Hei, dear. Sudah siang. Sudah shalat? Makan, jangan telat " pesan singkat itu segera melayang, sampai pada notifnya. Menjadi kebiasaan bagiku untuk tetap berkabar. Meski jarak kita tak terlalu jauh, namun tetap menjaga komunikasi adalah hal yang wajib untuk tetap menjaga komitmen kami. Menyempatkan berkabar ditengah kesibukan.
"... Hmmm, makan terooos. Ntar aku gendut kamu gamau loooh yang. " hanya beberapa menit dia membalas. Aku tertawa membaca isi balasan itu. Lantas kami terus saling berbalas pesan, seperti biasa.
" Kapan pulang. Sudah rindu.. "
"... Lusa aku pulang. Esok harinya kita jalan. Mau?"
"Tentu saja mau, pertanyaanmu aneh. Tapi, gimana ijin dengan ibu, yang? "
Sejenak aku tersenyum membaca nya, membayangkan rona wajahnya yang selalu merah muda tatkala ia cemberut, tersenyum, bingung, bahkan gelisah. Yaa, memang hubungan kami belum juga diketahui oleh keluarga kami masing-masing. Ada banyak pertimbangan kami untuk saling mengenalkan, sebab bahasa "pacar" memang sedikit meragukan untuk keseriusan bagi keluarga kami masing-masing. Jadi, kami berkomitmen jika nanti telah siap satu sama lain dan keadaan memungkinkan, kami akan maju bersama. Menghadap dan meminta izin untuk ke jenjang selanjutnya.
"Gapapa, nanti biar aku yg ijinin ke ibu ya. Pagi berangkat, sore kita sudah dirumah." lantas kujawab seperti itu.
"... Eeemmm, yasuda kalo gitu. Aku percayakan kamu aja kalo gitu. Segera shalat, ini sudah lewat jam makan siang. Jaga diri baik baik disana, jaga hatimu juga ❤️"
"Kalo gitu kita setuju, yaa. Baik kalo gitu,
sayang juga. Baikbaik disana yaa. Misyuu. "
"... Missyutu"
Singkat, namun cukup mengobati rindu ini. Kami tau semua tak akan mudah, terlebih perihal restu orang tua jelas saja itu tak akan mudah. Terkadang bosan itu ada, tapi kami selalu berusaha untuk tak saling pergi. Menguatkan satu sama lain, mempercayai hati yang masing-masing kami jaga untuk satu nama. Semoga itu yang senantiasa kami langitkan ke haribaan-Nya Yang Esa.
Langit siang itu mendung, seakan ikut merayakan kerinduan kami.
Segera aku bangkit, kembali ke dalam ruangan. Berjibaku dengan tumpukan kertas laporan yg tak kunjung menipis. Begitupun dengannya. Siang itu kami tutup dengan kembali menyibukkan diri, seraya berharap waktu cepat berputar untuk hari esok.
****

(part 7)

Rabu, 12 Agustus 2020

Jingga (?)

Sore itu selepas hujan, 
Langit begitu indah, 
Mendung tak lagi menggelayuti, 
Cerah jingga menyambut senja, 

Sore itu selepas hujan, 
Aku tersenyum, 
Lega, 
Tak lagi ada beban, 

Sore itu, 
Pada jingga yang berpijar cerah, 
Di langitNya, 
Sekali lagi aku menengadah, 
Meminta tak pernah lelah, 

Pada jingga di sore itu, 
Sekali lagi ku lantunkan, 
Untukku, untukmu 
Untuk kita, 

Selasa, 11 Agustus 2020

Stronger!

Apakabar? 
Tahun ini berat ya? 
Tak mengapa, tetap bersyukur 
Bukankah sampai hari ini kita masih bernafas? 

Tahun ini sungguh berat, bukan? 
Kehilangan pekerjaan, 
Kehilangan penghidupan, 
Kehilangan hati, 
Tak apa, tidak mengapa kamu kuat kamu hebat, 

Tahun ini benar-benar berat ya? 
Kita harus dihadapkan dengan masalah masalah pelik, 
Berhadapan dengan masalah masalah yg tak masuk akal bagi kita, 
Tak mengapa, sungguh tak apa 
Percayalah saja pada Tuhan. 

Setelah ini kamu akan terlahir kembali, percayalah. Kamu akan lebih kuat, lebih hebat dari kamu yg sebelumnya, 
Kenapa? Menangis? Menangislah, tuntaskan, selesaikan hari ini. Esok, dongakkan lagi wajahmu. Tunjukkan pada dunia bahwa Tuhan tak keliru memilihmu. Memilih kamu sebagai salah satu dari sekian banyak hambaNya yg hebat.. 

Senin, 10 Agustus 2020

Truth?

Aku tak tau, 
Kenapa lagi seperti ini, 
Sekali lagi temukan arti, 
Sekali lagi berlabuh, 

Tak apa, 
Tak mengapa, 
Setiap jalan selalu mengenal arah, 
Nikmati saja setiap keloknya, 
Hirup dalam dalam setiap aroma, 

Kamu benar, 
Ini tak akan mudah, 
Tak akan selalu,
Jadi, tetaplah disini. Di sampingku, 
Jangan lagi mengelana, 
Jangan lagi kemana, 

Kamis, 06 Agustus 2020

Struggle?

Ada. Yang di perjuangkan sekuat hati tapi tak bisa kamu miliki. 
Ada. Hati yang di jaga setengah mati tapi tak bisa dibersamai. 
Dan, ada. Sosok yang menguatkan tapi tidak untuk kamu sanding 
Maka berbesar hatilah, ikhlaskan lah. 
Langitkan semua harapmu dan berhentilah mengeluh. Tuhan tau, Tuhan senantiasa tau. 

Senin, 03 Agustus 2020

Calm?

Tidak, 
Tidak mungkin kali ini salah, 
Aku percaya, 
Dan aku benar-benar percaya. 
Mungkin hanya butuh waktu, 
Sedikit saja. 
Biarkan bunga itu merekah, 
Biarkan rasa itu tumbuh dg semestinya, 
Tak apa, bukankah kamu sudah terbiasa? 
Dengan keadaan sesulit apapun, 
Tenang saja, ia tak akan kemana
Sebab kamu sudah menjadi rumah untuknya pulang. 
Melepas semua lelah, membuang semua penatnya. 
Tenanglah, tenang